"Hari ini kita menghadapi sebuah paradoks kelapa sawit nasional. Misi hilir sangat jelas dengan Asta Cita Bapak Presiden Prabowo Subianto, kemandirian energi B50. Di sisi lain, kita juga perlu terus menjalankan ekspor secara berkelanjutan. Sekarang kalau kita tengok realitas hulu kita, produktivitas CPO cenderung stagnan," papar Jatmiko.
Menurut Jatmiko, salah satu kunci untuk menjawab tantangan tersebut adalah meningkatkan produktivitas, terutama pada perkebunan sawit rakyat yang mencakup sekitar 42 persen dari total luasan lahan sawit nasional.
"Seandainya satu ton saja produktivitas masyarakat naik, itu ada tambahan suplai CPO 6.000.000 ton. Kebutuhan biodisel B50 langsung bisa kita jalankan. Ini gap yang mesti kita jawab, sehingga kita mesti berpikir juga bagaimana kita menciptakan market driven research, ketemu peneliti dan juga dengan pengusaha dan juga rakyat. Tidak hanya berhenti di sebuah jurnal," tegasnya.
Dorong Akses Bibit Unggul bagi Pekebun
Sebagai bagian dari kontribusi perusahaan terhadap peningkatan produktivitas, Jatmiko memaparkan sejumlah inisiatif PTPN IV PalmCo, antara lain membuka akses terhadap ketersediaan bibit bersertifikat bagi pekebun secara luas.
Selain itu, perusahaan juga mengoptimalkan pemanfaatan limbah pabrik kelapa sawit atau Palm Oil Mill Effluent (POME) sebagai sumber energi baru terbarukan (EBT) berupa biometana.
Komentar