Beranda
Seputar Publik / Berita

PTPN IV PalmCo Raup USD 10,5 Juta dari Penjualan CPO Bersertifikasi RSPO

760 ribu ton CPO dan PKO berstandar keberlanjutan global terjual sepanjang 2025, perkuat posisi sawit Indonesia di pasar internasional
Proses produksi minyak kelapa sawit (CPO) di unit PTPN IV PalmCo yang telah mengantongi sertifikasi keberlanjutan RSPO untuk pasar domestik dan internasional. Proses produksi minyak kelapa sawit (CPO) di unit PTPN IV PalmCo yang telah mengantongi sertifikasi keberlanjutan RSPO untuk pasar domestik dan internasional.

Seputarpublik.com, JAKARTA — Subholding PTPN IV PalmCo, bagian dari Holding Perkebunan Nusantara III (Persero), berhasil meraih tambahan pendapatan berupa premium price sebesar USD 10,5 juta atau sekitar Rp174 miliar dari penjualan 760 ribu ton crude palm oil (CPO) dan palm kernel oil (PKO) bersertifikasi keberlanjutan sepanjang 2025.

Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko Santosa, dalam keterangan tertulis di Jakarta, Selasa (3/2/2026), menyampaikan bahwa tambahan nilai tersebut diperoleh dari produk sawit bersertifikasi Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) melalui skema Identity Preserved (IP) dan Mass Balance (MB).

> “Sertifikasi RSPO IP dan MB menempatkan PalmCo pada segmen pasar berstandar keberlanjutan tinggi. Skema ini menjamin ketelusuran produk dari hulu ke hilir sekaligus memberi nilai tambah komersial,” ujar Jatmiko.

Sepanjang 2025, PalmCo memproduksi dan menjual 201 ribu ton CPO bersertifikasi RSPO IP dari tiga entitas operasional di Sumatera Utara dan Riau. Rinciannya, PTPN IV Regional I dan II di Sumatera Utara masing-masing menjual 57,5 ribu ton dan 60,4 ribu ton, sementara PTPN IV Regional III di Riau mencatat penjualan 82 ribu ton CPO RSPO IP.

Selain itu, PalmCo juga memasarkan 520 ribu ton CPO bersertifikasi RSPO Mass Balance yang diproduksi hampir seluruh entitasnya. Untuk minyak inti sawit (PKO) bersertifikasi RSPO MB, pasar menyerap sekitar 40,5 ribu ton.

Sertifikasi RSPO skema Identity Preserved merupakan level tertinggi dalam sistem rantai pasok berkelanjutan, memastikan CPO berasal dari satu sumber terverifikasi dan terpisah dari produk non-sertifikasi. Sementara model Mass Balance memungkinkan pencampuran minyak sawit bersertifikat dalam rantai pasok dengan kontrol ketat terhadap lokasi produksi.

Jatmiko menegaskan, konsistensi penerapan standar keberlanjutan menjadi kunci menjaga akses pasar global di tengah meningkatnya hambatan non-tarif serta regulasi lingkungan di negara tujuan ekspor.

> “Pasar global semakin selektif. Keberlanjutan, kepatuhan, dan transparansi menjadi parameter utama. PalmCo menempatkan ketiganya sebagai bagian strategi bisnis,” jelasnya.

Menurutnya, implementasi sertifikasi RSPO turut mendorong peningkatan disiplin operasional di tingkat kebun dan pabrik, termasuk pengelolaan lingkungan, pengendalian emisi, serta perlindungan kawasan bernilai konservasi tinggi.

Secara korporasi, PalmCo terus mempercepat transformasi bisnis melalui penguatan tata kelola, integrasi rantai pasok, dan peningkatan volume produk bersertifikasi. Di tengah tekanan isu lingkungan global dan dinamika perdagangan internasional, sertifikasi ini menjadi instrumen strategis untuk menjaga daya saing sekaligus memitigasi risiko pasar.

> “Keberlanjutan bukan sekadar tuntutan regulasi, tetapi strategi jangka panjang perusahaan dalam menjaga akses pasar dan kinerja usaha,” tutup Jatmiko. [red]*