Ramadan dikatakan sebagai bulan jihad, lanjut dia, karena secara historis pelaksanaannya pada masa Nabi Muhammad saw., bertepatan dengan peristiwa perang dan kemenangan yang diraih umat Islam.
Namun, menurut dia, semangat jihad sering disalahartikan oleh beberapa kelompok dengan konteks yang tidak sesuai, yaitu sebagai perang (qital). Mereka lantas berpendapat bahwa Ramadan adalah waktu yang tepat untuk membuat teror bagi kelompok radikal terorisme.
“Ketika umat Islam sedang menjalankan ibadah puasa atau menahan diri, pada dasarnya sedang berjihad. Oleh karena itu, Ramadan disebut juga dengan dengan syahrul jihad,” kata Rubi.
Dosen Program Studi Magister Pengkajian Islam UIN Syarif Hidayatullah itu mengatakan bahwa ada satu peristiwa luar biasa yang dialami Nabi Muhammad saw. bersama sahabatnya saat Ramadan, yaitu peristiwa Perang Badar.
Menurut dia, dalam kondisi berpuasa, Nabi Muhammad beserta 313 pasukannya melawan 1.000 kafir Qurais dalam Perang Badar. Namun, akhirnya umat Islam memenangi perang bersejarah tersebut.
“Namun, euforia kemenangan Perang Badar itu digambarkan oleh Rasulullah sebagai satu perang yang tidak seberapa,” ujarnya.
Seusai memenangi perang, kata dia, Nabi Muhammad mengatakan bahwa roza’kna min jihadil asgar ila jihadil akbar (pulang dari jihad kecil menuju jihad besar).
Para sahabat lantas bertanya, “Lalu seperti apa jihad akbar itu ya Rasulullah?”
Rasulullah menjawab, “jihadul akbar jihadul nafs, jihad akbar itu adalah perang melawan diri sendiri.”
“Jadi, sebenarnya jihad yang paling besar itu bukan jihad secara fisik berperang dan lain-lain, melainkan melawan diri sendiri dari segala hawa nafsu yang bisa menghancurkan diri sendiri maupun orang lain, dan itu berpuasa,” kata Rubi.
Dalam konteks keindonesiaan, menurut Rubi, makna jihad melawan hawa nafsu itu dapat dipupuk untuk menjaga kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Menurut dia, Indonesia sebagai negara yang penuh keberagaman suku, agama, ras, dan budaya perlu menanamkan nilai-nilai kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi dan golongan.
Ia memandang perlu kesadaran bersama untuk memupuk terus keberagaman untuk menghindari perpecahan.
Komentar