“Jangan sampai pemerintah hanya menjadi pemberi harapan. Masyarakat ingin Ramadan ini dijalani di tempat tinggal yang lebih layak,” tegasnya.
Keterbatasan Pangan dan Ancaman Kesehatan
Saidah, salah seorang warga terdampak, mengaku telah tinggal di tenda pengungsian sejak banjir 26 November 2025 menerjang desanya. Selama lebih dari tiga bulan, ia bersama dua keluarga—termasuk anak dan cucunya—menempati satu tenda darurat.
“Selama pascabanjir, kami hidup seadanya. Beras memang ada, tetapi lauk-pauk seperti ikan dan sayur sulit didapat. Untuk berbuka puasa, kami hanya minum sirup merah,” ujarnya kepada tim Aliansi Pers, Selasa (03/03/2026).
Ia juga mengeluhkan kondisi kesehatan anaknya yang kerap mengalami demam akibat suhu panas di dalam tenda.
“Anak saya sering demam. Di dalam tenda sangat panas, sehingga sulit beristirahat dengan nyaman,” katanya.
Keluhan serupa disampaikan Maulina yang masih berteduh di tenda bersama tujuh anggota keluarganya. Ia mengaku kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari sekaligus menghadapi persoalan kesehatan akibat kondisi pengungsian yang tidak memadai.
Komentar