Seputar Publik / Berita

Transformasi Pendidikan Digital Jadi Tantangan Besar, DPR dan Komdigi Dorong Penguatan SDM serta Keamanan Siber

Forum diskusi publik menyoroti pentingnya literasi digital guru, pemerataan akses internet, hingga perlindungan data pendidikan di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan (AI).
Transformasi pendidikan digital bukan sekadar soal teknologi, tetapi juga kesiapan SDM, penguatan literasi digital, dan perlindungan data. DPR bersama Komdigi dorong sistem pendidikan nasional yang lebih adaptif, inklusif, dan aman di era AI. Transformasi pendidikan digital bukan sekadar soal teknologi, tetapi juga kesiapan SDM, penguatan literasi digital, dan perlindungan data. DPR bersama Komdigi dorong sistem pendidikan nasional yang lebih adaptif, inklusif, dan aman di era AI.

“Pemerintah juga menghadirkan program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk menunjang kualitas belajar siswa,” tambahnya.

Sementara itu, pakar keamanan siber Alfons Tanujaya menilai pola pendidikan saat ini telah mengalami perubahan besar dari sistem belajar pasif menuju pembelajaran digital yang lebih adaptif.

“AI ke depan bisa menjadi tutor personal bagi siswa. Tetapi kesiapan SDM, terutama guru, juga harus ditingkatkan,” katanya.

Ia mengungkapkan penetrasi internet Indonesia telah mencapai 79,5 persen, namun kemampuan literasi digital guru masih perlu diperkuat.

“Literasi digital guru saat ini masih berada di skor 3,49 dari 5. Ini menjadi tantangan serius dalam transformasi pendidikan digital,” ujarnya.

Alfons juga mengingatkan ancaman keamanan siber di sektor pendidikan yang terus meningkat, terutama serangan ransomware dan kebocoran data pribadi.

“Sekolah dan institusi pendidikan harus mulai serius membangun sistem perlindungan data dan keamanan digital,” tegasnya.

Selain itu, ia menilai pemerataan akses internet di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) masih menjadi pekerjaan rumah pemerintah.

Praktisi pendidikan Hammad dalam kesempatan itu mengatakan transformasi pendidikan tidak hanya soal teknologi, tetapi juga penguatan karakter dan kualitas pendidik.

“Guru saat ini tidak hanya mengajar, tetapi harus menjadi moderator kebenaran di tengah derasnya arus informasi media sosial,” ujarnya.

Ia juga menyoroti pentingnya pemerataan mutu pendidikan melalui program “Sekolah Rakyat” serta target wajib belajar 13 tahun yang mencakup integrasi PAUD ke dalam pendidikan dasar pada 2029.

Forum diskusi publik tersebut menjadi wadah kolaborasi pemerintah, legislatif, akademisi dan praktisi dalam merumuskan arah pendidikan nasional yang lebih inklusif dan adaptif di era digital.(Red)*

Tulis Komentar

Komentar