Rincian progres pembangunan menunjukkan, di Aceh sebanyak 108 unit huntap telah rampung dengan 719 unit masih dalam pengerjaan. Di Sumatera Utara, sebanyak 227 unit telah selesai dibangun dan 225 unit masih berproses. Sementara di Sumatera Barat, tercatat 22 unit huntap telah selesai dan 52 unit lainnya sedang dalam tahap pembangunan.
Pembangunan huntap ini melibatkan kolaborasi berbagai pihak, mulai dari Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), pemerintah daerah, hingga organisasi kemanusiaan seperti Buddha Tzu Chi Indonesia dan Kadin Indonesia.
Juru Bicara Satgas PRR, Amran, menjelaskan bahwa pembangunan hunian tetap memerlukan tahapan yang lebih panjang dibanding hunian sementara karena pemerintah berupaya memastikan kualitas bangunan tetap aman, layak huni, dan berkelanjutan.
“Pembangunan huntap memiliki tahapan yang lebih kompleks untuk menjamin kualitas tempat tinggal, karena ini merupakan hunian permanen yang akan menjadi tempat tinggal jangka panjang bagi para penyintas,” ujar Amran dalam keterangannya di Jakarta.
Ia menambahkan, selama proses pembangunan huntap berlangsung, para penyintas telah difasilitasi dengan hunian sementara yang layak, sehingga kebutuhan dasar tempat tinggal tetap terpenuhi.
Menurutnya, percepatan pembangunan huntap akan terus didorong seiring proses verifikasi data penerima manfaat yang dilakukan pemerintah daerah, tanpa mengabaikan standar mutu dan keamanan bangunan.
“Target kami adalah mempercepat penyelesaian huntap agar para penyintas dapat segera kembali menjalani kehidupan yang lebih stabil, dengan tetap memastikan kualitas pembangunan terjaga,” tutupnya.
Perkembangan ini menjadi bagian penting dari upaya rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana, sekaligus menandai langkah nyata pemerintah dan seluruh mitra dalam menghadirkan pemulihan yang berkelanjutan bagi masyarakat terdampak di Sumatera.(Red)*
Komentar