“DKI Jakarta bisa menjadi pilot project bagaimana Pemerintah DKI Jakarta mencoba dan berusaha memberikan akses yang sama untuk anak-anak kita tumbuh dan berkembang dalam pemenuhan hak-haknya,” ujar Arifatul.
Menurut dia, pembangunan ekosistem inklusif membutuhkan kesinambungan kebijakan dan kolaborasi lintas sektor agar pemenuhan hak anak berkebutuhan khusus dapat berjalan secara optimal.
SPEKIX 2026 berlangsung selama dua hari dengan menghadirkan 35 seminar dan lokakarya, pameran yang melibatkan 129 tenant, panggung pertunjukan, serta layanan konsultasi gratis bersama psikolog dan terapis.
Penyelenggara SPEKIX 2026, Srihartati, mengatakan kegiatan tersebut berawal dari kebutuhan orang tua akan informasi dan pendampingan untuk mendukung tumbuh kembang anak berkebutuhan khusus.
Ia berharap SPEKIX dapat terus berkembang menjadi ruang bersama yang membantu keluarga sekaligus memperkuat ekosistem yang ramah bagi individu neurodivergen.
Harapan terhadap peningkatan layanan juga disampaikan Muzdalifah (40), pengunjung asal Cikarang yang hadir bersama putranya, Abdul Bahar Alparizi (15).
Ia berharap penyelenggaraan SPEKIX pada tahun mendatang dapat menghadirkan layanan pemeriksaan mata bagi anak penyandang disabilitas.
“Harapan saya, inginnya kalau ada SPEKIX lagi tahun depan, ada pemeriksaan mata untuk anak disabilitas,” ujarnya.
Masukan tersebut menjadi pengingat bahwa pembangunan ekosistem inklusif tidak hanya berkaitan dengan penyediaan fasilitas dan program, tetapi juga perlu memastikan kebutuhan nyata penyandang disabilitas beserta keluarganya mendapat perhatian.
Melalui perluasan akses pendidikan, kesehatan, perlindungan sosial, dan kesempatan kerja, upaya membangun Jakarta yang inklusif diharapkan dapat semakin membuka ruang bagi penyandang disabilitas untuk berkembang, berpartisipasi, dan hidup mandiri.(*/hel)
Komentar