“Energi menjadi prioritas nasional. Kajian ini bukan hanya menghitung potensi energi, tetapi juga meningkatkan efisiensi agar pengolahan limbah sawit lebih optimal dan berkelanjutan,” ujarnya.
Menurut Hens, pengembangan Bio-CBG berbasis sawit juga sejalan dengan agenda pembangunan rendah karbon karena mampu menekan emisi metana sekaligus menghasilkan produk turunan bernilai tambah.
BRIN juga melihat peluang pengembangan kawasan inovasi berbasis industri sawit atau technopark yang mengintegrasikan riset, pengolahan limbah, dan pengembangan energi baru terbarukan.
“Kami berharap model ini dapat direplikasi secara nasional dan menjadi contoh pengembangan energi berbasis sawit di Indonesia,” tambahnya.
Sementara itu, Peneliti Energi BRIN Samuel Pati Senda menjelaskan hasil audit lapangan di fasilitas PTBg co-firing Sei Pagar menunjukkan peningkatan efisiensi produksi gas metana yang signifikan.
Produksi metana tercatat meningkat dari rata-rata 36.706 normal meter kubik (Nm³) per bulan pada 2025 menjadi sekitar 46.683 Nm³ per bulan pada periode pengujian tahun 2026.
“Data ini menunjukkan teknologi pengolahan limbah sawit untuk energi sudah cukup matang dan layak direplikasi dalam skala lebih besar,” ujarnya.
Menurut Samuel, pemanfaatan limbah sawit menjadi Bio-CBG tidak hanya terkait penyediaan energi alternatif, tetapi juga merupakan bagian dari penerapan ekonomi sirkular di industri perkebunan.
“Limbah yang sebelumnya menjadi sumber emisi kini dapat diubah menjadi energi bersih. Jadi ada manfaat lingkungan sekaligus manfaat ekonomi,” katanya.
Pengembangan biomethana berbasis sawit juga dinilai mampu memperkuat target pemerintah dalam mencapai bauran energi baru terbarukan sebesar 23 persen. Di tengah tantangan transisi energi dan tingginya impor LPG, pengolahan limbah sawit menjadi “kembaran hijau” gas alam mulai dipandang sebagai salah satu solusi strategis dari sektor agroindustri nasional.(Red)*
Komentar