Menurutnya, proyek bersama BRIN difokuskan pada pengolahan limbah cair pabrik kelapa sawit (palm oil mill effluent atau POME) dan biomassa tandan kosong menjadi biomethana berkadar tinggi. Gas tersebut kemudian dimurnikan hingga memiliki spesifikasi menyerupai gas bumi.
“Bio-CBG ini pada dasarnya merupakan ‘kembaran hijau’ dari CNG. Fungsinya sama dan bisa digunakan sebagai alternatif pengganti LPG maupun bahan bakar fosil lainnya,” jelasnya.
Langkah tersebut dinilai sejalan dengan kebijakan pemerintah yang tengah menekan ketergantungan terhadap impor energi. Sebelumnya, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menegaskan bahwa pemanfaatan gas domestik menjadi salah satu strategi utama untuk mengurangi beban impor LPG nasional.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyebut pengembangan energi berbasis gas dalam negeri memiliki daya saing tinggi karena didukung sumber daya dan infrastruktur industri yang tersedia di Indonesia.
“Gasnya ada di kita, industrinya juga ada di dalam negeri. Karena itu pengembangannya perlu terus diperluas,” ujarnya.
PalmCo Targetkan 17 Instalasi Bio-CBG
PalmCo saat ini tengah menyusun peta jalan pengembangan energi hijau berbasis sawit. Salah satu proyek yang sedang berjalan adalah pembangunan fasilitas Bio-CBG di Pabrik Kelapa Sawit (PKS) Tinjowan, Sumatera Utara.
Komentar