Sementara itu, Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko K. Santosa, mengatakan hingga April 2026 perusahaan telah menyerap sekitar 1,03 juta ton TBS dari masyarakat dan mitra, meningkat 2,52 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
> "Peningkatan volume serapan ini berjalan beriringan dengan penerapan standar mutu yang jelas. Hingga April 2026, perolehan rendemen CPO kami terjaga di angka 18,69 persen," kata Jatmiko.
Direktur Hubungan Kelembagaan PTPN IV PalmCo, Arya Sandhiyudha, menambahkan pihaknya terus berkoordinasi dengan dinas perkebunan di berbagai daerah guna memastikan implementasi regulasi harga sesuai ketentuan pemerintah.
> "Kehadiran BUMN di daerah harus menjadi referensi harga yang wajar dan jangkar pengaman tata niaga, terutama saat pasar sedang mengalami gejolak," ujar Arya.
Di tingkat petani, pola kemitraan dinilai memberikan perlindungan terhadap fluktuasi harga. Sekretaris KUD Sawit Makmur Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan, Suparman, menyebut anggotanya tetap menerima harga sesuai ketetapan pemerintah daerah meski harga di pasar sempat mengalami tekanan.
Senada, Ketua Koperasi Produsen Makarti Jaya Kabupaten Rokan Hulu, Riau, Hadiyanto, mengatakan kemitraan dengan PTPN membantu menjaga stabilitas harga yang diterima petani.
> "Di saat petani swadaya sangat terimbas dengan anjloknya harga, kami masih tersenyum. PTPN tetap hadir dengan harga yang stabil," ungkapnya.
Peristiwa turunnya harga TBS dalam beberapa pekan terakhir kembali menunjukkan pentingnya kepatuhan seluruh pelaku industri terhadap mekanisme penetapan harga yang telah disepakati. Di sisi lain, keberadaan kemitraan dan serapan yang konsisten menjadi instrumen penting dalam menjaga pendapatan petani saat pasar menghadapi ketidakpastian.(Red)*
Komentar