Seputarpublik.com || PEKANBARU – PTPN IV PalmCo, Subholding Holding Perkebunan Nusantara, terus mengakselerasi pelaksanaan Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) di Provinsi Riau sebagai bagian dari dukungan terhadap implementasi kebijakan mandatori B50, yakni pencampuran bahan bakar solar dengan 50 persen biodiesel berbasis minyak sawit yang akan diterapkan pemerintah.
Hingga akhir 2025, melalui PTPN IV Regional III, perusahaan telah merealisasikan peremajaan sawit rakyat seluas 12.600 hektare. Program tersebut merupakan kelanjutan dari revitalisasi perkebunan yang dimulai pada 2012 dan dilanjutkan melalui Program PSR sejak 2019 secara berkesinambungan.
Sepanjang 2026, PTPN IV Regional III menargetkan tambahan peremajaan seluas 4.500 hektare, sehingga total areal PSR di Provinsi Riau diharapkan mencapai 17.100 hektare hingga akhir tahun.
Region Head PTPN IV Regional III, Bambang Budi Santoso, mengatakan capaian tersebut menunjukkan tingginya antusiasme petani dalam mengikuti program peremajaan sawit.
> "Insya Allah, sampai akhir tahun ini program peremajaan sawit di Riau dapat mencapai 17.100 hektare. Alhamdulillah progresnya sangat baik dan rekan-rekan petani juga sangat antusias terhadap program PSR ini," ujar Bambang dalam keterangannya di Pekanbaru, Jumat (19/6/2026).
Menurutnya, untuk mencapai target tersebut, PTPN IV Regional III melalui Distrik Petani Mitra terus mempercepat seluruh tahapan pelaksanaan, mulai dari pendataan lahan, proses verifikasi, hingga penerbitan Rekomendasi Teknis (Rekomtek).
Produktivitas Petani Meningkat Signifikan
Program PSR yang dijalankan PTPN IV PalmCo bertujuan mengurangi kesenjangan produktivitas antara perkebunan rakyat dan perkebunan korporasi.
Berdasarkan berbagai data, produktivitas kebun sawit rakyat di Indonesia rata-rata masih berada pada kisaran 7–12 ton tandan buah segar (TBS) per hektare per tahun, sedangkan produktivitas perkebunan perusahaan dapat melampaui 20 ton per hektare per tahun.
Melalui peremajaan menggunakan bibit unggul bersertifikat dan penerapan standar budidaya perusahaan, produktivitas kebun petani menunjukkan peningkatan yang signifikan.
Bambang menjelaskan, petani mitra yang mengikuti program revitalisasi melalui koperasi kini mampu menghasilkan produktivitas hingga 29,10 ton per hektare per tahun.
Sementara itu, petani peserta Program PSR dengan tanaman menghasilkan tahun ketiga (TM-3) telah mencapai produktivitas 23,94 ton per hektare per tahun, jauh melampaui standar produktivitas 19 ton per hektare per tahun yang ditetapkan Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS).
Dukung Implementasi Biodiesel B50
Lebih lanjut, Bambang mengatakan percepatan Program PSR juga menjadi bagian dari kontribusi perusahaan dalam mendukung implementasi kebijakan biodiesel B50 yang direncanakan mulai berlaku pada 1 Juli 2026.
> "Kami ingin turut ambil bagian dalam meningkatkan produksi CPO nasional dengan memperkuat petani sawit sehingga produktivitas mereka meningkat dan pada akhirnya dapat mendukung kebijakan pemerintah menjadikan sawit sebagai sumber energi baru terbarukan," jelasnya.
Penerapan kebijakan B50 diproyeksikan mampu menghemat devisa negara hingga Rp157,28 triliun sepanjang 2026 melalui pengurangan impor bahan bakar minyak jenis solar.
Kemitraan Libatkan 28 Ribu Petani
Secara keseluruhan, PTPN IV Regional III telah membangun kemitraan plasma seluas 56.500 hektare yang melibatkan lebih dari 28.000 petani sejak perusahaan berdiri.
Sebagian besar petani mitra kini tengah menjalankan Program PSR guna mengganti tanaman sawit tua dengan tanaman baru yang lebih produktif dan berdaya saing.
Keberhasilan program tersebut, menurut Bambang, tidak terlepas dari sinergi dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk Asosiasi Petani Kelapa Sawit Perusahaan Inti Rakyat (Aspekpir) yang selama ini menjadi mitra strategis perusahaan.
> "Kami juga didukung oleh teman-teman Aspekpir dalam mengakselerasi program ini sehingga pelaksanaannya dapat berjalan lebih optimal," ujarnya.
Selain Program PSR, sejak 2019 PTPN IV Regional III juga telah menyalurkan sekitar 2,56 juta bibit sawit unggul bersertifikat kepada 8.900 petani sebagai bagian dari upaya peningkatan produktivitas perkebunan rakyat.
Bambang menegaskan bahwa keberhasilan kemitraan PTPN IV PalmCo didukung oleh penerapan pola single management yang mengedepankan transparansi dan standar budidaya perusahaan.
Melalui pola tersebut, petani memperoleh pendampingan mulai dari proses penumbangan tanaman tua, penggunaan bibit unggul bersertifikat, penanaman, pemupukan, pemeliharaan, hingga penguatan kelembagaan koperasi serta berbagai pelatihan untuk mewujudkan perkebunan sawit yang produktif dan berkelanjutan.
Dengan target perluasan Program PSR, dukungan bibit unggul, serta penguatan aspek keberlanjutan, PTPN IV Regional III optimistis sektor sawit rakyat di Provinsi Riau akan terus berkembang, meningkatkan kesejahteraan petani, memperkuat pasokan bahan baku industri sawit nasional, serta mendukung keberhasilan implementasi program energi terbarukan melalui kebijakan biodiesel B50.(Adv)*