“Saya ini petani kecil. Produksi kebun tidak banyak. Jadi ketika buah yang sudah siap panen itu dicuri, dampaknya langsung terasa ke ekonomi keluarga. Pernah saya kesulitan membeli pupuk karena hasil panen berkurang, sementara kebutuhan rumah tangga tetap harus dipenuhi,” ujarnya.
Arman juga menilai aksi pencurian sawit kini semakin terorganisir dan berani. Bahkan, menurut pengakuannya, para pelaku tidak jarang melakukan intimidasi saat aksinya diketahui oleh pemilik kebun.
“Kalau lihat polanya, pencurinya terorganisir. Terkadang kalau kepergok mereka berani mengancam kami dengan senjata. Jadi sangat meresahkan,” katanya.
Persoalan serupa juga dihadapi unit-unit perkebunan yang dikelola PTPN IV PalmCo. Luasnya areal perkebunan dan banyaknya akses masuk ke kawasan kebun menjadi tantangan tersendiri dalam pengamanan aset perusahaan.
Zulfikar (38), seorang pemanen sawit di salah satu unit usaha PTPN IV Regional 2, mengatakan pencurian buah sawit turut memengaruhi pencapaian target panen di lapangan.
“Sering kali kami datang ke blok yang seharusnya siap dipanen, tetapi sebagian buah sudah tidak ada. Akibatnya target panen sulit tercapai,” ujarnya.
Region Head PTPN IV Regional 2, Budi Susanto, menjelaskan bahwa pencurian TBS merupakan salah satu tantangan utama yang terus mendapat perhatian perusahaan.
Komentar