Pemerintah juga akan memperkuat sektor real yang pada masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mampu mendorong pertumbuhan di atas 6 persen. Penguatan terhadap sektor real memberikan Indonesia peluang besar dalam mengejar pertumbuhan yang agresif.
Pertumbuhan tak capai 6 persen
Berbeda dengan pemerintah yang memperkirakan pertumbuhan ekonomi tahun depan bisa mencapai 6 persen, sejumlah lembaga kajian termasuk Bank Indonesia memprediksi kenaikannya tidak akan sebesar itu, paling banter 5,4 persen.
Bank Indonesia (BI) memperkirakan pertumbuhan ekonom pada tahun depan di level 5,33 persen. Jika pemerintah mempercepat belanja fiskal, kenaikannya bisa lebih bagus di angka 5,4 persen.
Lembaga lain justru memperkirakan pertumbuhan ekonomi tahun depan lebih rendah dari perkiraan BI. Bank Permata, misalnya, melalui Permata Institute for Economic Research (PIER) memperkirakan ekonomi nasional hanya tumbuh di kisaran 5,1-5,2 persen.
Bisa jadi perkiraan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang lebih rendah ini, karena PIER memasukkan variabel global dalam analisanya. Lembaga ini menilai pemulihan ekonomi akan berjalan, namun lajunya moderat sejalan dengan tantangan internasional dan domestik yang menekan kegiatan ekonomi.
Indonesia akan terdampak perlambatan ekonomi global terutama yang berasal dari Amerika Serikat dan China sebagai penggerak ekonomi dunia terbesar.
Komentar