Seputarpublik.com || JAKARTA – Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB) menegaskan komitmennya untuk terus menjaga, mengembangkan, dan meregenerasi budaya Betawi sebagai identitas utama Jakarta di tengah transformasi ibu kota menuju kota global. Komitmen tersebut disampaikan dalam Pagelaran Seni Budaya Betawi yang digelar di Teater Besar Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat, Selasa (14/7/2026), bertepatan dengan peringatan Hari Ulang Tahun ke-499 Kota Jakarta sekaligus perayaan emas (Golden Anniversary) 50 tahun LKB.
Perayaan berlangsung meriah dengan menampilkan beragam kesenian khas Betawi, mulai dari tari tradisional, lenong, musik, hingga keroncong Betawi. Selain menjadi ajang apresiasi seni, kegiatan tersebut juga menjadi momentum untuk menegaskan pentingnya menjaga akar budaya di tengah perkembangan Jakarta sebagai kota global.
Ketua Umum LKB, H. Beky Mardani, mengatakan usia setengah abad LKB menjadi tonggak penting untuk memperkuat kolaborasi seluruh elemen masyarakat dalam melestarikan budaya Betawi agar tetap hidup, berkembang, dan relevan di setiap zaman.
Menurut Beky, budaya Betawi telah membuktikan kemampuannya beradaptasi dengan berbagai perubahan tanpa kehilangan jati diri.
> "Budaya Betawi sudah teruji mampu beradaptasi dengan berbagai perubahan yang terjadi di Jakarta. Sejak ratusan tahun lalu budaya Betawi hidup berdampingan dengan berbagai budaya lain dan mampu berakulturasi tanpa kehilangan jati dirinya," ujar Beky.
Ia menilai, status Jakarta sebagai kota global justru menjadi peluang untuk semakin memperkuat eksistensi budaya Betawi sebagai identitas kota.
"Jakarta adalah kota yang terbuka terhadap berbagai budaya dari daerah maupun mancanegara. Namun budaya Betawi selalu mampu berasimilasi dan beradaptasi. Itulah kekuatan budaya Betawi," katanya.
Beky juga mengapresiasi komitmen Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang menetapkan budaya Betawi sebagai budaya inti Jakarta.
> "Ke depan, meskipun Jakarta menjadi kota global, identitas Betawi tetap menjadi tuan rumah di kotanya sendiri. Kami bersyukur Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah menegaskan bahwa budaya Betawi merupakan budaya inti Jakarta," ungkapnya.
Selama lima dekade, lanjut Beky, LKB tidak hanya menjadi organisasi pelestari seni dan budaya, tetapi juga berperan sebagai mitra strategis Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam memberikan masukan terkait kebijakan pemajuan kebudayaan.
Kontribusi tersebut diwujudkan melalui pelestarian seni tradisi, bahasa Betawi, sastra lisan, kuliner, permainan rakyat, pakaian adat, hingga pembinaan generasi muda melalui pendidikan budaya, festival, pelatihan, dan berbagai kegiatan kebudayaan lainnya.
Beky berharap penyempurnaan regulasi mengenai pemajuan kebudayaan di Jakarta dapat semakin memperkuat ruang pelestarian budaya Betawi, termasuk bahasa, sastra lisan, permainan tradisional, dan berbagai warisan budaya lainnya.
> "Kami optimistis dengan komitmen Gubernur Pramono Anung dan Wakil Gubernur Rano Karno, pemajuan budaya Betawi akan menjadi bagian penting dalam pembangunan Jakarta sebagai kota global yang tetap berbudaya," tuturnya.
Sementara itu, budayawan Betawi Yahya Andi Saputra mengingatkan bahwa perjalanan panjang LKB tidak dapat dipisahkan dari peran Gubernur DKI Jakarta periode 1966–1977, Ali Sadikin, yang dinilai sebagai tokoh penting kebangkitan budaya Betawi.
Menurut Yahya, semangat yang diwariskan Ali Sadikin terus dijaga melalui berbagai program pelestarian budaya, termasuk menghidupkan kembali tradisi ngebuleng (mendongeng khas Betawi), sohibul hikayat, serta mengaktifkan kembali ajang Abang None Cilik bekerja sama dengan PT Pembangunan Jaya Ancol.
> "Selama 50 tahun, Lembaga Kebudayaan Betawi telah banyak mendedikasikan program-program kebudayaan bagi masyarakat, pelajar, dan mahasiswa. Tahun ini kami juga kembali menghidupkan Abang None Cilik yang sempat lama vakum," ujar Yahya.
Sebagai simbol regenerasi budaya, panitia menghadirkan salah satu finalis Abang None Cilik ke atas panggung yang disambut antusias para tamu undangan.
Suasana semakin semarak dengan penampilan para seniman senior Betawi seperti Mak Tonah, Munaroh, Sabar Bokir, Burhan, Opi Kumis, Bang Kubil, serta pertunjukan Keroncong Betawi di bawah pimpinan Yoyo Muhtar. Seluruh rangkaian acara dipandu oleh Bang Aden dan Mpo Amira.
Pagelaran budaya tersebut juga dihadiri Gubernur DKI Jakarta periode 2007–2012 Fauzi Bowo (Bang Foke). Dalam pesannya, ia mengajak masyarakat Betawi untuk terus menjaga persatuan dan memperkuat kebersamaan.
> "Yang penting masyarakat Betawi harus tetap guyub. Jangan karena sedikit perbedaan kemudian mendirikan kelompok baru. Harus tetap kompak, tetap bersatu," pesannya.
Turut hadir pula delegasi Women International Club (WIC) yang beranggotakan para istri duta besar negara sahabat di Indonesia serta perwakilan Soka Gakkai Jepang, organisasi yang bergerak di bidang perdamaian, pendidikan, dan kebudayaan. Kehadiran tamu internasional tersebut mencerminkan semakin luasnya perhatian terhadap budaya Betawi di tingkat global.
Memasuki usia ke-50, LKB menegaskan komitmennya untuk terus menjadi garda terdepan dalam menjaga, mengembangkan, dan mewariskan budaya Betawi kepada generasi penerus. Di tengah perjalanan Jakarta menuju usia lima abad dan transformasi sebagai kota global, seni, bahasa, sastra, kuliner, adat istiadat, serta nilai-nilai luhur masyarakat Betawi diyakini akan tetap menjadi ruh dan identitas Kota Jakarta.(*/hel)