“Saya tekankan, ke depan LBIQ jangan hanya menonjolkan gratisnya, tapi harus punya dampak yang nyata terhadap hasil didikannya. Layanan pendidikan yang berkualitas akan menarik lebih banyak peserta dari berbagai kalangan, bukan hanya karena gratis, tetapi karena mutu yang terjamin,” ujar Marullah.
Ia juga mendorong agar LBIQ terus berinovasi, memanfaatkan ruang publik seperti taman-taman kota untuk kegiatan belajar, serta mengembangkan materi pembelajaran yang relevan, termasuk pembinaan etika dan akhlak warga Jakarta. Menurutnya, pendidikan Al-Qur'an yang bermutu akan menjadi magnet bagi masyarakat sekaligus membentuk karakter beradab di tengah kehidupan kota metropolitan.
Sebagai lembaga yang dibentuk Pemprov DKI sejak 1981 di era Gubernur R. Soeprapto, LBIQ telah melahirkan ribuan alumni. Keberadaannya menjadi kebanggaan Pemprov DKI dan diharapkan terus berkembang dalam membentuk masyarakat berakhlak mulia. Pemprov juga memberikan dukungan nyata, termasuk alokasi dana hibah dari APBD setiap tahun untuk menjaga keberlangsungan dan efektivitas program.
Sementara itu, Ketua LBIQ H. Supli Ali menjelaskan bahwa lembaga ini merupakan satu-satunya di Indonesia yang khusus melayani masyarakat yang ingin belajar bahasa Arab dan Al-Qur’an dari tingkat dasar hingga lanjutan, termasuk pelatihan guru. Dengan 37 tenaga pengajar, LBIQ melayani sekitar 3.000 peserta setiap tahun tanpa biaya, bahkan menarik minat peserta dari luar Jakarta.
Komentar