Berdasarkan estimasi tarif listrik rumah tangga non-subsidi golongan R1/2.200 VA sebesar Rp1.444,70 per kWh, pemanfaatan PLTS tersebut diperkirakan mampu menghasilkan penghematan energi sekitar 236 kWh per bulan, atau setara penghematan biaya listrik sekitar Rp340 ribu per bulan dan mencapai lebih dari Rp4 juta per tahun.
Pengurus Gereja Katolik Santo Kristoforus, Hunin Herdanus, menyampaikan apresiasi atas bantuan tersebut. Menurutnya, biaya listrik selama ini menjadi salah satu pengeluaran rutin gereja yang cukup besar, sehingga keberadaan PLTS Atap akan sangat membantu efisiensi operasional harian.
Dukungan juga datang dari Sekretaris Desa Amboyo Inti, Junaedi, yang menilai program ini relevan dengan kebutuhan masyarakat dan menjadi contoh nyata sinergi positif antara perusahaan dan lingkungan sekitar.
Bagi PalmCo, inisiatif ini menjadi bagian dari strategi memperluas pemanfaatan energi bersih tidak hanya di lingkungan internal perusahaan, tetapi juga pada fasilitas sosial masyarakat seperti sekolah, klinik, hingga rumah ibadah di berbagai regional operasional.
“Kami berharap inisiatif ini dapat memberi dampak besar bagi masyarakat dan menjadi inspirasi bahwa efisiensi energi serta penggunaan energi bersih bisa dimulai dari lingkungan sekitar. PalmCo akan terus hadir melalui program-program yang tidak hanya produktif secara bisnis, tetapi juga memberi manfaat sosial dan lingkungan secara berkelanjutan,” tutup Jatmiko.
Melalui langkah ini, Holding Perkebunan Nusantara menegaskan perannya sebagai BUMN yang tidak hanya berorientasi pada produktivitas, tetapi juga aktif mendorong transformasi energi nasional dan pembangunan berkelanjutan hingga tingkat komunitas.(Adv)*
Komentar