“Kami ingin guru-guru Qur’an tidak hanya bisa membaca dengan fasih, tapi juga memahami isi dan cara mengajarkan Al-Qur’an secara mendalam. Ini bukan sekadar pelatihan teknis, tapi bagian dari dakwah yang sistematis,” tambah KH. Umar.
Sementara itu, peluncuran JAMHATI memperkuat jaringan ma’had Tilawati di berbagai daerah. JAMHATI menjadi wadah kolaborasi antarlembaga, forum peningkatan mutu guru Qur’an, serta ruang pertukaran metode pengajaran dan penguatan program riset tajwid.
Wakil Gubernur DKI Jakarta H. Rano Karno, yang turut hadir, menyampaikan apresiasi atas inisiatif ini. Ia menilai peluncuran LSP Tilawati merupakan terobosan penting dalam memperkuat posisi guru Al-Qur’an di tengah masyarakat.
“Selama ini kita bicara pendidikan karakter, tapi lupa bahwa guru ngaji adalah salah satu fondasi karakter bangsa. Karena itu saya sangat menghargai gerakan seperti ini yang lahir dari komunitas, bukan dari kekuasaan,” ujar Rano.
Direktur Penerangan Agama Islam Kementerian Agama, Dr. H. Ahmad Zayadi, M.Pd, menambahkan bahwa gerakan standarisasi guru Al-Qur’an perlu tumbuh dari bawah, dari komunitas pendidikan Qur’ani yang memiliki sistem dan integritas.
“Tilawati membuktikan bahwa pembinaan Qur’an bisa dibangun secara mandiri dan terstruktur. Kami di Kemenag hadir untuk memperkuat ekosistemnya lewat dukungan regulasi dan fasilitasi,” kata Zayadi.
Silaturahim Tilawati Nasional 2025 dihadiri oleh lebih dari 8.000 guru Qur’an, pimpinan pesantren, pengasuh TPQ, dan pegiat pendidikan Islam dari berbagai wilayah. Tokoh-tokoh nasional seperti Komisioner BNSP Dr. KH. Muhammad Nur Hayid, Muallif metode Tilawati KH. Ali Muaffa, dan penceramah nasional KH. Ahmad Fathoni turut memberikan penguatan dalam forum ini.
Acara juga menampilkan demonstrasi metode pengajaran Tilawati dari jenjang PAUD hingga dewasa, serta pemaparan skema sertifikasi berjenjang yang akan mulai diterapkan tahun ini.
Tentang Tilawati:
Metode Tilawati dikembangkan oleh Pesantren Nurul Falah Surabaya dan kini digunakan di lebih dari 7.000 lembaga pendidikan Al-Qur’an di Indonesia dan Asia Tenggara. Metode ini menekankan tartil, tajwid, dan manajemen kelas berbasis tahapan pembelajaran yang sistematis dan terstandar.
(*/helmi)
Komentar