Sebuah buku autobiografi tentang dirinya telah terbit pada 2012. Namun, menurut Sarnadi, buku tersebut perlu diperbarui karena perjalanan seninya terus berlangsung.
Rentang 2012 hingga 2026, misalnya, diwarnai berbagai pameran di luar negeri dan keterlibatannya dalam sejumlah agenda seni internasional di Eropa dan Asia.
"Perjalanan dari awal sampai tahun 2012 sudah ada. Tetapi 2012 sampai 2026 ada perjalanan lagi, termasuk pameran di mancanegara, pameran-pameran internasional, di Eropa dan Asia," ujarnya.
Karena itu, museum dan autobiografi menjadi dua bagian dari cita-cita yang ingin ia tinggalkan.
Jika museum menjadi ruang untuk melihat dan mempelajari karya, buku menjadi catatan perjalanan yang merekam proses panjang di balik karya-karya tersebut.
Pada usia 70 tahun dan setelah 50 tahun berkarya, Sarnadi tidak lagi semata-mata berbicara tentang perjalanan dirinya sebagai seorang pelukis. Ia mulai memikirkan bagaimana karya-karya yang telah dilahirkannya dapat terus hidup dan dikenal oleh generasi setelahnya.
Museum yang diimpikannya pun sederhana. Tidak perlu megah, cukup sekitar 200 meter persegi dengan dua lantai.
Namun, bagi Sarnadi, ruang yang sederhana itu dapat memiliki makna besar jika mampu menjadi tempat bertemunya karya, pendidikan, sejarah, dan generasi muda.
Di sanalah ia ingin meninggalkan sebagian karya terbaiknya, bukan sekadar sebagai koleksi, melainkan sebagai warisan seni untuk Jakarta.
Sebab, bagi Sarnadi, perjalanan 50 tahun berkarya pada akhirnya bukan hanya tentang berapa banyak lukisan yang telah dibuat, tetapi tentang bagaimana karya-karya tersebut tetap dapat berbicara kepada generasi yang akan datang.(*/hel)
Komentar