Seputar Publik / Berita

Usia 70 Tahun, Sarnadi Adam Punya Satu Harapan: Museum Seni Lukis Betawi di Jakarta

Setengah abad berkarya, maestro seni rupa asal Jakarta itu berharap Pemprov DKI menghadirkan museum yang menjadi ruang edukasi, laboratorium seni, sekaligus warisan bagi generasi muda.
Di usia 70 tahun dan setelah lima dekade berkarya, Sarnadi Adam menyimpan satu harapan: hadirnya Museum Seni Lukis Betawi di Jakarta sebagai ruang edukasi, dokumentasi, dan warisan seni bagi generasi mendatang. Di usia 70 tahun dan setelah lima dekade berkarya, Sarnadi Adam menyimpan satu harapan: hadirnya Museum Seni Lukis Betawi di Jakarta sebagai ruang edukasi, dokumentasi, dan warisan seni bagi generasi mendatang.

Selama sekitar lima dekade berkarya, ia tidak hanya memperkenalkan seni lukis Betawi di Jakarta, tetapi juga membawanya ke berbagai daerah di Indonesia dan mancanegara.

Di dalam negeri, pameran-pameran karyanya telah berlangsung di sejumlah kota, antara lain Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Malang, Surabaya, Bali, Makassar, Jayapura, serta berbagai daerah lainnya.

Dari ruang-ruang pamer di berbagai kota tersebut, Sarnadi terus mengangkat kehidupan masyarakat dan kebudayaan Betawi sebagai sumber gagasan.

Lingkungan, aktivitas masyarakat, pasar tradisional, tradisi, hingga kehidupan sehari-hari menjadi bagian dari objek yang diterjemahkannya ke dalam bahasa seni rupa.

Perjalanan itu kemudian meluas ke kawasan Asia. Karyanya pernah hadir dalam berbagai pameran di Singapura, Malaysia, Thailand, Filipina, Brunei Darussalam, dan Korea Selatan. Jejaknya juga menjangkau China dan Jepang, antara lain melalui pameran di Shenzhen, Beijing, dan Tokyo.

Perjalanan artistiknya berlanjut ke Eropa. Sarnadi menyebut sejumlah pameran yang membawanya ke Amsterdam, Rotterdam, Den Haag, Bergen, dan Warmenhuizen, serta berbagai kota dan negara lainnya, termasuk Belgia, Prancis, Jerman, Norwegia, Swiss, dan Swedia.

Tulis Komentar

Komentar