Seputar Publik / Berita

Usia 70 Tahun, Sarnadi Adam Punya Satu Harapan: Museum Seni Lukis Betawi di Jakarta

Setengah abad berkarya, maestro seni rupa asal Jakarta itu berharap Pemprov DKI menghadirkan museum yang menjadi ruang edukasi, laboratorium seni, sekaligus warisan bagi generasi muda.
Di usia 70 tahun dan setelah lima dekade berkarya, Sarnadi Adam menyimpan satu harapan: hadirnya Museum Seni Lukis Betawi di Jakarta sebagai ruang edukasi, dokumentasi, dan warisan seni bagi generasi mendatang. Di usia 70 tahun dan setelah lima dekade berkarya, Sarnadi Adam menyimpan satu harapan: hadirnya Museum Seni Lukis Betawi di Jakarta sebagai ruang edukasi, dokumentasi, dan warisan seni bagi generasi mendatang.

Di Amerika Serikat, karya-karyanya juga pernah dipamerkan di New York, Boston, dan kawasan Massachusetts.

Rentang perjalanan tersebut menjadi bagian dari upayanya membawa kebudayaan Betawi ke ruang seni yang lebih luas.

Bagi Sarnadi, Betawi bukan sekadar objek visual, melainkan sumber gagasan yang dapat terus ditafsirkan melalui seni rupa.

Karena itu, ia memandang perjalanan lima dekade berkaryanya sebagai proses panjang untuk menghadirkan seni lukis Betawi sebagai bagian dari perjalanan seni rupa Jakarta.

Sarnadi bahkan menyebut dirinya sebagai penemu atau pencipta seni lukis Betawi, dalam pengertian bahwa melalui karya-karyanya ia berupaya menghadirkan kehidupan dan kebudayaan Betawi secara konsisten ke dalam medium seni lukis.

"Yang saya lakukan adalah mengangkat objek-objek kebetawian. Dari yang tidak ada menjadi ada," kata Sarnadi dalam menggambarkan perjalanan panjang tersebut.

Baginya, seni lukis Betawi perlu terus dikembangkan agar tidak berhenti sebagai representasi visual kebudayaan, tetapi juga menjadi ruang ekspresi dan penciptaan bagi generasi penerus.

Museum untuk Generasi Muda

Tulis Komentar

Komentar