Sejumlah kawasan yang perlu diwaspadai meliputi dataran rendah dan permukiman padat dengan sistem drainase terbatas, wilayah sekitar aliran sungai, serta daerah perbukitan dan lereng yang kondisi tanahnya telah jenuh air.
“Wilayah Jakarta hampir merata, termasuk Jakarta Selatan, serta wilayah Depok dan Bogor,” jelas Andri.
Untuk wilayah Jakarta, potensi utama berupa banjir dan genangan yang dapat mengganggu aktivitas serta arus lalu lintas, khususnya pada jam sibuk pagi dan sore hari. Sementara di wilayah Bogor dan sekitarnya, risiko tanah longsor menjadi ancaman yang perlu diantisipasi.
BMKG menjelaskan, kondisi cuaca ekstrem ini dipicu oleh sejumlah fenomena atmosfer yang sedang aktif dan saling memperkuat, di antaranya penguatan Monsun Asia, aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO), gelombang Rossby ekuator, serta adanya tekanan rendah di selatan Nusa Tenggara Barat di Samudra Hindia yang mendukung pembentukan awan hujan.
BMKG juga mengimbau masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan apabila hujan turun terus-menerus selama 3–4 jam tanpa jeda, atau terjadi sejak dini hari, mereda pada siang hari, lalu kembali meningkat pada sore hingga malam. Pola tersebut dinilai berisiko tinggi karena bertepatan dengan jam mobilitas masyarakat.
Tak hanya Jabodetabek, BMKG memastikan potensi cuaca ekstrem juga meluas secara nasional, meliputi seluruh Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur, serta sebagian wilayah Sulawesi Selatan.
Masyarakat diimbau untuk terus memantau informasi cuaca resmi BMKG dan menyesuaikan aktivitas harian guna meminimalkan risiko dampak cuaca ekstrem. (*/hel)
Komentar