Bahasa daerah mulai jarang digunakan. Simbol-simbol budaya mulai kehilangan tempat dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan dalam beberapa situasi, ekspresi budaya asli terkadang dipandang asing di tanah yang justru melahirkannya.
Fenomena ini patut menjadi bahan introspeksi bersama.
Pelestarian budaya bukanlah bentuk penolakan terhadap modernitas atau terhadap budaya lain. Sebaliknya, menjaga budaya lokal adalah bentuk penghormatan terhadap sejarah, identitas, dan akar peradaban yang membentuk kita hari ini.
Budaya Sunda memiliki kekayaan nilai yang sangat luhur: kesantunan, penghormatan kepada alam, keseimbangan hidup, gotong royong, serta kebijaksanaan dalam menerima keberagaman.
Nilai-nilai tersebut tercermin dalam amanat leluhur yang dikenal dalam Amanat Galunggung, sebuah pesan moral yang mengingatkan generasi penerus untuk menjaga kabuyutan—yakni warisan, kehormatan, dan ruang budaya yang menjadi identitas bersama.
Pesan itu menjadi semakin relevan hari ini.
Jangan sampai generasi penerus kehilangan kedekatan dengan budayanya sendiri. Jangan sampai warisan leluhur hanya menjadi simbol tanpa makna, atau sekadar cerita tanpa penerus.
Menjaga budaya bukan berarti menutup diri dari dunia luar. Justru dengan mengenal dan mencintai budaya sendiri, kita akan lebih siap berdialog dengan peradaban lain secara setara dan bermartabat.
Komentar