Beranda
Seputar Publik / Berita

Buku “22 Hari Belajar Parenting” Hadir di Tengah Masifnya Konten Digital, Ini Standar Ketat Erlangga

Ditujukan terutama bagi orang tua baru, buku karya 22 penulis ini mengangkat pentingnya referensi parenting yang kredibel di tengah derasnya informasi media sosial.
Imam Fachdrian, Koordinator editor buku umum Erlangga (tengah) saat diskusi bedah buku 22 hari belajar parenting Imam Fachdrian, Koordinator editor buku umum Erlangga (tengah) saat diskusi bedah buku 22 hari belajar parenting

Seputarpublik.com || JAKARTA — Di tengah derasnya arus informasi parenting di media sosial, kehadiran buku sebagai sumber referensi yang kredibel dinilai tetap memiliki peran penting bagi orang tua, khususnya mereka yang baru memasuki fase menjadi ayah dan ibu.

Hal tersebut menjadi salah satu alasan Komunitas Rumah Pencerah bersama penerbit Erlangga menghadirkan buku 22 Hari Belajar Parenting yang diluncurkan di Pendopo Joglo, kediaman Anies Baswedan, kawasan Lebak Bulus II Dalam, Cilandak, Jakarta Selatan, Selasa (1/9/2026).

Buku tersebut memiliki keunikan karena ditulis oleh 22 penulis, yang masing-masing berkontribusi dalam rangkaian pembelajaran parenting selama 22 hari.

Koordinator Editor Buku Umum Erlangga, Imam Fachdrian, mengatakan keterlibatan banyak penulis membuat proses editorial harus dilakukan dengan standar yang ketat agar seluruh tulisan tetap memiliki kualitas dan karakter yang sesuai dengan kebutuhan pembaca.

“Pertama kali pastinya kami lihat penggunaan bahasanya. Tentunya bahasa yang digunakan harus sesuai dengan EYD dan PUEBI,” ujar Imam dalam wawancara di sela peluncuran buku.

Namun, menurut dia, standar editorial tidak berhenti pada persoalan tata bahasa.

Erlangga juga berupaya memastikan bahasa yang digunakan tetap dekat dengan karakter pembaca masa kini, terutama generasi milenial dan Gen Z yang mulai memasuki fase sebagai orang tua baru.

“Selain itu, kami mengusahakan supaya bahasanya bisa masuk ke kaum milenial dan Gen Z. Itu yang utama,” katanya.

Imam menjelaskan, target utama buku tersebut memang orang tua baru yang membutuhkan referensi praktis mengenai bagaimana menghadapi sekaligus mendidik anak.

Karena itu, penggunaan bahasa menjadi salah satu faktor penting agar pesan parenting yang disampaikan 22 penulis dapat diterima dengan mudah oleh pembaca.

Buku sebagai Filter Informasi Digital

Imam menilai kebutuhan terhadap referensi parenting yang kredibel semakin penting di tengah masifnya perkembangan media sosial seperti TikTok dan berbagai platform digital lainnya.

Di satu sisi, media sosial memberikan akses informasi yang cepat dan luas. Namun, di sisi lain, tidak seluruh konten yang beredar memiliki dasar pengetahuan yang dapat dipertanggungjawabkan.

“Ketika kita kembali ke dunia digital, memang banyak sekali konten-konten yang tidak ada saringannya,” ujarnya.

Dalam kondisi tersebut, buku dinilai dapat mengisi ruang yang belum sepenuhnya dapat dipenuhi oleh media digital.

Menurut Imam, buku dapat menjadi salah satu rujukan yang membantu orang tua memilah berbagai informasi parenting yang mereka temukan di internet.

“Peran buku itu untuk memfilter konten-konten itu, bagaimana buku menjadi acuan yang credible dan sudah bisa dipastikan kalau sumbernya terpercaya,” katanya.

Ia menegaskan, kehadiran buku bukan berarti untuk menghentikan perkembangan digitalisasi. Sebaliknya, buku dan teknologi dapat berjalan beriringan.

“Kami memang tidak bisa menghentikan digitalisasi, tapi buku akan mengisi ruang kosong digitalisasi, di mana kita membutuhkan referensi-referensi yang credible,” ujar Imam.

Naskah Tidak Otomatis Diterbitkan

Imam juga mengungkapkan bahwa setiap naskah yang masuk ke Erlangga tidak serta-merta diterbitkan.

Ada sejumlah tahapan penyaringan yang harus dilalui untuk memastikan isi buku memenuhi standar penerbit.

Selain penggunaan bahasa, penerbit akan memperhatikan topik-topik sensitif yang dinilai tidak sesuai untuk diterbitkan.

“Untuk penggunaan bahasanya, lalu ada topik-topik yang sensitif, itu pasti tidak kami masukkan,” katanya.

Erlangga juga melakukan pemeriksaan terhadap sumber informasi yang digunakan dalam naskah. Hal tersebut dilakukan untuk memastikan referensi yang dicantumkan benar-benar dapat dipercaya.

Tidak hanya isi naskah, latar belakang penulis juga menjadi bagian dari proses seleksi.

“Kami juga akan mengecek background dari penulisnya. Apakah penulisnya benar-benar punya kemampuan di bidang itu atau tidak,” ujar Imam.

Dengan proses tersebut, naskah yang diterima penerbit harus melalui penyaringan sebelum akhirnya dinyatakan layak diterbitkan.

“Ketika ada penulis yang mengirimkan naskahnya ke Erlangga, tidak serta-merta akan bisa langsung diterbitkan. Kami melakukan penyaringan secara ketat sehingga produk yang dihasilkan juga produk-produk berkualitas,” katanya.

Parenting Jadi Topik yang Semakin Dicari

Menurut Imam, tema parenting saat ini menjadi salah satu topik yang semakin relevan seiring bertambahnya generasi milenial dan Gen Z yang mulai menjadi orang tua.

Generasi tersebut, kata dia, tidak sedikit yang mencari pendekatan baru dalam mendidik anak. Mereka mulai mempertanyakan pola pengasuhan yang diterima dari generasi sebelumnya dan mencari metode yang dianggap lebih sesuai dengan kondisi anak saat ini.

“Ketika melihat parenting ini memang menjadi topik hangat sekarang, apalagi banyak remaja yang sudah tumbuh menjadi orang tua baru. Mereka mencari jati diri, bagaimana cara mendidik anak dan bagaimana tidak menggunakan gaya pengasuhan yang lama, tetapi menemukan gaya pengasuhan yang baru,” ujarnya.

Karena itu, buku 22 Hari Belajar Parenting diharapkan dapat menjadi salah satu referensi bagi orang tua baru dalam memahami kebutuhan anak sekaligus membangun pola pengasuhan yang lebih relevan dengan perkembangan zaman.

Berawal dari Ruang Belajar

Buku 22 Hari Belajar Parenting sendiri lahir dari rangkaian kegiatan belajar bersama yang dilakukan Komunitas Rumah Pencerah selama bulan Ramadhan.

Ketua Komunitas Rumah Pencerah, Sri Rahayu, mengatakan kegiatan tersebut pada awalnya menjadi ruang bagi orang tua untuk belajar bersama mengenai berbagai persoalan pengasuhan anak.

“Buku ini sebetulnya dari acara belajar bersama di bulan puasa selama 20 hari. Targetnya tentu orang tua,” ujar Sri.

Dalam perkembangannya, materi pembelajaran tersebut kemudian dikemas menjadi buku dengan cerita dan ilustrasi sehingga lebih mudah diterima oleh pembaca.

Salah satu pesan utama yang diangkat adalah pentingnya kehadiran orang tua dalam kehidupan anak.

Di tengah kesibukan dan derasnya interaksi melalui media sosial, orang tua dinilai perlu kembali memberikan ruang bagi komunikasi langsung bersama anak.

Kehadiran tersebut bukan sekadar berada di tempat yang sama, tetapi juga hadir secara emosional, mendengarkan, memahami, dan membangun komunikasi yang membuat anak merasa aman untuk bercerita.

Sementara itu, Ketua Dewan Pembinaan Komunitas Rumah Pencerah, Fery Farhati, mengatakan komunitas tersebut telah berdiri sejak 2014 sebagai ruang belajar dan wadah pemberdayaan bagi orang tua serta tenaga pendidik anak usia dini.

Awalnya, gerakan tersebut lahir dari keinginan menciptakan lingkungan yang baik bagi tumbuh kembang anak di sekitar tempat tinggal.

Seiring waktu, semakin banyak pihak yang terlibat hingga Rumah Pencerah berkembang menjadi komunitas yang aktif menggelar berbagai pelatihan.

Fery menilai tantangan pengasuhan saat ini semakin kompleks karena anak tumbuh bersamaan dengan perkembangan teknologi.

Karena itu, teknologi tidak semestinya hanya dipandang sebagai ancaman.

“Teknologi tidak harus kita takuti, tetapi harus kita manfaatkan sebaik-baiknya dengan tetap menjaga nilai-nilai budaya kita,” ujarnya.

Pada akhirnya, buku 22 Hari Belajar Parenting tidak hanya menawarkan kumpulan tulisan mengenai pengasuhan anak. Buku ini juga menjadi upaya mempertemukan pengalaman, pengetahuan, dan refleksi dari 22 penulis dalam satu ruang belajar bagi orang tua.

Di tengah banjir informasi digital, pesan yang ingin dibangun menjadi sederhana: orang tua tidak harus mengetahui semua hal, tetapi harus mau terus belajar agar mampu hadir dan tumbuh bersama anak.(*/hel).