Seputar Publik / Berita

Cerita Betawi Dihidupkan Kembali: Dari Folklor Menjadi Cerpen untuk Generasi Baru

Pelatihan “Dari Folklor ke Fiksi” di Taman Ismail Marzuki mendorong generasi muda menggali cerita rakyat, tradisi, dan sastra lisan Betawi menjadi karya kreatif yang relevan dengan zaman.
Generasi muda diajak menghidupkan kembali cerita dan sastra lisan Betawi melalui pelatihan kreatif “Dari Folklor ke Fiksi” di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Generasi muda diajak menghidupkan kembali cerita dan sastra lisan Betawi melalui pelatihan kreatif “Dari Folklor ke Fiksi” di Taman Ismail Marzuki, Jakarta.


Folklor Betawi Bisa Menjadi Sumber Cerita

Ige Azmin mengatakan sumber cerita Betawi sebenarnya berada sangat dekat dengan kehidupan masyarakat. Menurutnya, folklor tidak hanya berupa cerita rakyat, tetapi juga mencakup tradisi, benda, kebiasaan, serta berbagai praktik budaya yang hidup di tengah masyarakat.

«“Folklor itu berkaitan dengan segala sesuatu yang ada di dalam kelompok masyarakat. Bisa berupa cerita, tradisi, benda-benda, maupun hal-hal lain yang hidup di masyarakat,” ujar Ige.»

Menurutnya, penulis tidak harus terlebih dahulu menguasai seluruh detail kebudayaan Betawi untuk mulai berkarya. Sebaliknya, proses kreatif dapat menjadi pintu masuk untuk menggali lebih jauh kekayaan budaya tersebut.

Ia juga menekankan pentingnya membuat premis dan kerangka cerita sebelum mulai menulis. Perencanaan tersebut dinilai dapat membantu penulis mengatasi kebuntuan ide sekaligus membuat proses kreatif lebih terarah.

«“Kalau kita menjadikan folklor tersebut sebagai sumber inspirasi dan bahan cerita pendek, itu justru bisa membuat kita lebih lancar menulis,” katanya.»

Si Pitung hingga Si Mirah Bisa Dibawa ke Zaman Sekarang

Tulis Komentar

Komentar