Sasti Gotama menilai cerita rakyat Betawi memiliki peluang besar untuk kembali dikenal generasi muda apabila dikemas dengan sudut pandang yang lebih dekat dengan kehidupan mereka.
Cerita seperti Si Mirah, Si Pitung, hingga Si Manis Jembatan Ancol, menurut Sasti, tidak harus sekadar ditulis ulang. Penulis dapat mengambil ruh dari cerita tersebut kemudian membawanya ke persoalan masa kini.
«“Bagaimana menjadikan cerita masa lalu itu tetap relate, bisa mengambil roh dari cerita-cerita yang lalu dengan setting masa kini tanpa kehilangan ruh cerita-cerita rakyat Betawi,” ujar Sasti.»
Menurutnya, kedekatan dengan persoalan sehari-hari menjadi salah satu kunci agar pembaca muda merasa terhubung dengan sebuah cerita.
«“Biasanya orang tertarik membaca karena merasa relate, merasa terhubung dengan cerita tersebut,” katanya.»
Sasti menyadari tantangan memperkenalkan sastra kepada generasi muda semakin besar. Sastra kini harus bersaing dengan media sosial yang menawarkan konten visual dan audio secara cepat.
Karena itu, generasi muda tidak cukup hanya diajak membaca karya sastra. Mereka juga perlu diberi ruang untuk mengenal, berdiskusi, menulis, sekaligus mengolah kembali cerita sesuai dengan cara pandang zamannya.
«“Tidak kenal, tidak sayang. Makanya salah satu forum seperti ini adalah mengenalkan kepada mereka. Semakin banyak pemaparan, saya pikir akan membuat mereka tertarik dengan sendirinya,” tuturnya.»
Komentar