Sementara itu, ruang partisipasi bagi warga Jakarta nonmuslim dalam kegiatan serupa, menurut pandangannya, dapat difasilitasi melalui ajang lain, seperti pemilihan putri pariwisata.
“Terpenting kalau untuk penyelenggaraan Abnon Jakarta harus tetap mempertahankan esensi dan nilai budaya yang menjadi identitasnya,” tegasnya.
Pandangan senada disampaikan anggota LAKB yang juga Rektor Institut Ilmu Sosial dan Manajemen STIAMI, Profesor Sylviana Murni. Ia menilai, penyelenggaraan Abnon Jakarta perlu dievaluasi dan didefinisikan kembali agar selaras dengan nilai-nilai budaya Betawi.
Menurut Sylviana, evaluasi tersebut perlu melibatkan para pemangku kepentingan dengan menjadikan akar budaya, adat, dan agama sebagai pijakan pembahasan.
“Menurut saya, ini memang perlu kita evaluasi, kita perlu redefinisi, kita perlu lagi kumpul bareng. Saya apresiasi Bang Ferdy (Dailami Firdaus) yang sudah menginisiasi diskusi ini,” ujar Sylviana, yang pernah terpilih sebagai None Jakarta pada 1981.
Komentar