Pertanyaan itu kini perlu diarahkan kepada pendidikan tinggi.
Apakah mahasiswa yang mampu menghasilkan jawaban dengan bantuan AI benar-benar memahami jawabannya?
Apakah mahasiswa yang memperoleh nilai tinggi tanpa mengalami proses berpikir yang memadai benar-benar telah belajar?
Dan yang paling penting:
Manusia seperti apa yang akan terbentuk ketika AI melakukan semakin banyak hal untuk kita?
Inilah pertanyaan yang semestinya menyertai perjalanan UT memasuki usia ke-42.
Universitas Terbuka tidak cukup hanya melahirkan lulusan yang mampu menggunakan teknologi. UT perlu terus mendorong lahirnya manusia yang mampu menggunakan teknologi tanpa kehilangan kedaulatan berpikirnya.
Sebab, pada akhirnya, keberhasilan pendidikan bukan semata-mata diukur dari seberapa cepat seseorang memperoleh jawaban, tetapi dari seberapa dalam ia memahami pertanyaan.
Kejayaan sebuah perguruan tinggi juga bukan hanya terletak pada seberapa canggih teknologi yang digunakannya, melainkan pada seberapa tajam akal budi para lulusannya ketika berhadapan dengan realitas.
Di tengah dunia yang semakin dipenuhi jawaban instan, kemampuan untuk berhenti, bertanya, memeriksa, meragukan, dan berpikir sendiri justru menjadi bentuk kemandirian yang paling berharga.
Mendunia dengan inovasi tidak berarti menyerahkan manusia kepada teknologi.
Berdampak untuk negeri tidak dimulai ketika ijazah berada di tangan, tetapi dari setiap proses belajar yang dijalani dengan jujur, kritis, dan bertanggung jawab.
"Selamat Dies Natalis ke-42 Universitas Terbuka.
Teruslah berinovasi, tetapi jangan pernah kehilangan daya kritis. Sebab, teknologi tanpa kebijaksanaan hanya menghasilkan kecepatan, sementara pendidikan harus menghasilkan manusia.
* Penulis: Mohamad Pandu Kristiyono - Pustakawan dan Penulis, Pusdokinfo PJJ, Universitas Terbuka
Komentar