Ikut merintis dan mendirikan Harian Warta Kota bersama sejumlah wartawan Kompas, Grup majalah, dan Persda (sekarang Tribunnews), saya meninggalkan gegap gempita sebagai wartawan nasional dengan liputan internasional sekaligus. Saya memang meminta sendiri ke Pak Jakob Oetama agar gabung dengan tim baru, karena merasa tidak puas cukup menjadi sekrup di mesin Kompas yang besar dan hebat. Saya bangga karena beliau dalam beberapa kesempatan menyebut nama saya sebagai contoh, wartawan yang tidak mau hanya numpang tenar via Kompas. Mau capek kembali merintis. Terjun ke lapangan, bermain ke kantor kelurahan, kecamatan, balaikota, bahkan ke pasar-pasar.
Teringat mendiang ayah saya yang tugas pertamanya ketika menjadi wartawan Harian Waspada di Rantau Parapat, Sumut, bulai Mei tahun 1953. Dia tidak pernah lupa ke pasar, kebetulan beliau tinggal dekat Pekan Lama, untuk sarapan teh manis, ketat, dan pisang goreng sebelum memulai aktifitas liputan. Dan tentu saja kesempatan itu digunakan untuk membuat catatan guna mendapat gambaran harga-harga kebutuhan masyarakat.
“Kalau disuruh atasan tanya harga cabai, jangan berhenti di situ. Tanya semua harga tomat, bawang, sayur-mayur, termasuk beras. Supaya nanti tidak disuruh balik lagi,” katanya suatu ketika mengenang penugasan awal di perantuan, saat itu dia masih berusia 20 tahun.
Komentar