Bagi saya sendiri masuk ke Warta Kota memberi pengalaman berharga. Dari semula datang dan disambut, kini ketika mengetok pintu narasumber harus menjelaskan dulu sosok koran yang kami kelola. Apa dan bagaimananya. Banyak ditolak. Bahkan diberi peluang untuk iklan gratis pun ada yang tidak mau. Maklum waktu itu sudah ada Pos Kota yang ngetop dan menjadi nomer satu. Belakangan muncul pula Berita Kota. Maka strategi diferensiasi menjadi kunci. Termasuk intensitas terjun ke lapangan yang becek. Perlu waktu untuk belajar, namun rasanya puas karena perjuangan berhasil dan sampai kini edisi cetaknya masih eksis sedang kompetitor sudah beralih platform online.
Berkantor di Kawasan Kota, berbagai fitur menarik dan historis yang selama ini dilupakan, kami gali untuk diberitakan. Kami buat serial nama-nama asal Kawasan di Pecinan. Soal tempat yang disebut Petak Sembilan, Pecah Kulit, Luar Batang, Jembatan Kota Intan, Benteng Jakarta, Pintu Besar, dst. Juga soal SBKRI yang luar biasa rumit diurus dan kadang menjadi ladang pungli, bagi warta keturunan Tionghoa. Perlakuan tidak adil bagi warga yang sudah sejak ayah-ibunya lahir di Jakarta namun sulit mendapatkan status WNI, dsb. Juga soal lahan pekuburan semakin sempit sehingga Pemprov atau Pemkot harus menyiapkan anggaran besar untuk perluasan, sehingga waktu itu ada wacana, jenazah akan dikuburkan berdiri untuk menghemat tempat !
Komentar