Ia menegaskan bahwa peningkatan produktivitas dan standar kualitas menjadi fondasi utama pengelolaan Kebun Teh Kayu Aro dalam menapaki abad kedua.
Dari sisi bisnis, kinerja ritel Teh Kayu Aro menunjukkan tren positif. Sejak 2008, sekitar 4,5 persen dari total produksi teh PTPN IV disuplai oleh Kebun Teh Kayu Aro. Teh ini juga dikenal memiliki aroma kuat dan cita rasa premium yang digemari keluarga kerajaan Belanda—mulai dari Ratu Wilhelmina, Ratu Juliana, hingga Ratu Beatrix—bahkan tercatat pernah diminati Kerajaan Inggris, serta telah didistribusikan ke berbagai negara.
Lebih jauh, PalmCo kini mengintegrasikan aspek produksi dengan pelestarian lingkungan dan edukasi sejarah. Kebun Teh Kayu Aro diposisikan sebagai ekosistem berkelanjutan yang memadukan komoditas perkebunan, nilai konservasi, dan potensi agrowisata.
Identitas Kerinci
Bagi Pemerintah Kabupaten Kerinci, Kayu Aro merupakan identitas daerah yang tak terpisahkan dari denyut ekonomi dan pariwisata setempat. Bupati Kerinci Monadi, berharap sinergi antara pemerintah daerah dan PTPN IV PalmCo terus diperkuat.
“Harapannya, kejayaan Kayu Aro dapat sejalan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat Kerinci,” ujarnya.
Memasuki abad kedua, PalmCo menaruh optimisme besar. Sejarah panjang Kayu Aro dijadikan pijakan untuk melangkah lebih jauh, bukan sekadar nostalgia.
“Seratus tahun adalah awal dari babak baru. Dari sini, kita menuliskan cerita-cerita yang lebih kuat dan mengukuhkan Teh Kayu Aro sebagai salah satu standar kualitas teh dunia,” tutur Jatmiko.
Di tengah persaingan global yang semakin ketat, Kayu Aro memilih melangkah dengan caranya sendiri: bertumpu pada mutu, merawat warisan, dan terus beradaptasi dengan zaman. Sebuah perjalanan panjang yang diyakini masih akan terus berlanjut. [Red]
Komentar