Salah satu inovasi unggulan diterapkan di PKS Sei Mangkei, yang berlokasi di Kawasan Ekonomi Khusus Sei Mangkei, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara. Pabrik ini mengoperasikan fasilitas methane capture, yakni teknologi penangkapan gas metana dari limbah cair kelapa sawit (Palm Oil Mill Effluent/POME) yang kemudian diolah menjadi energi melalui Pembangkit Listrik Tenaga Biogas (PLTBg).
Teknologi tersebut dinilai efektif dalam menekan emisi gas rumah kaca sekaligus meningkatkan efisiensi kebutuhan energi internal pabrik.
Sementara itu, PKS Bah Jambi menerapkan sejumlah inovasi efisiensi operasional, termasuk konversi pompa air berbahan bakar solar menjadi pompa listrik. Berdasarkan data perusahaan, langkah tersebut berhasil menurunkan konsumsi bahan bakar solar secara signifikan, dari 3.695 liter pada 2023 menjadi 2.364,7 liter pada 2024.
Selain itu, otomatisasi pada sistem tangki air panas juga dilakukan untuk meningkatkan efisiensi proses produksi secara menyeluruh.
Dalam pengelolaan limbah padat, kedua pabrik memanfaatkan serat kelapa sawit sebagai bahan bakar pembangkit listrik dan produksi uap, sementara tandan kosong kelapa sawit (jangkos) dimanfaatkan sebagai pupuk organik. Khusus di Bah Jambi, limbah tersebut juga dikembangkan bersama masyarakat sekitar sebagai media budidaya jamur, menciptakan nilai tambah ekonomi berbasis lingkungan.
Direktur Strategy & Sustainability PTPN IV PalmCo, Ugun Untaryo, menegaskan bahwa perusahaan terus mendorong peningkatan kinerja lingkungan di seluruh unit operasional, dengan target minimal seluruh pabrik dan kebun meraih peringkat Biru, serta bertahap menuju PROPER Hijau bahkan PROPER Emas.
“Kami ingin memastikan setiap unit operasional bergerak menuju standar keberlanjutan yang lebih tinggi sebagai bagian dari transformasi industri sawit nasional yang kompetitif dan bertanggung jawab,” ujarnya.
Berdasarkan Rapor Final PROPER 2024–2025, sejumlah unit usaha lain di lingkungan PTPN IV PalmCo juga telah memenuhi standar kepatuhan lingkungan dengan meraih peringkat Biru.
Capaian ini menjadi bagian dari kontribusi nyata Holding Perkebunan Nusantara dalam menjawab tantangan global terhadap industri sawit, sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam mendorong praktik produksi yang lebih ramah lingkungan, efisien, dan berkelanjutan.(Adv)*
Komentar