Seputar Publik / Berita

Pencurian TBS Sawit Disorot, Petani dan Pekerja Minta Rantai Kejahatan Diputus

Maraknya pencurian TBS disebut tidak selalu berkaitan dengan alasan bertahan hidup. Pekerja, petani, dan pelaku usaha meminta penegakan hukum serta penelusuran terhadap pihak-pihak yang diduga menerima hasil pencurian.
Pencurian TBS sawit menjadi sorotan karena dinilai tidak hanya merugikan perusahaan, tetapi juga mengancam keamanan pekerja dan petani swadaya serta iklim usaha perkebunan. Pencurian TBS sawit menjadi sorotan karena dinilai tidak hanya merugikan perusahaan, tetapi juga mengancam keamanan pekerja dan petani swadaya serta iklim usaha perkebunan.

Menurutnya, pekerja dan petugas keamanan perkebunan juga menghadapi risiko keselamatan ketika berhadapan dengan pelaku yang melakukan perlawanan.

«“Kami ini bekerja secara halal untuk menafkahi keluarga. Namun di lapangan, satpam dan pekerja seringkali harus bertaruh nyawa menghadapi sindikat pencuri yang beringas dan main fisik. Yang dihadapi bukanlah orang kelaparan, melainkan oknum-oknum berbadan sehat yang bertindak agresif. Penegakan hukum yang tegas mutlak diperlukan agar ada efek jera,” ujar Jayus.»

Jayus juga menyoroti nilai ekonomi TBS yang dibawa dalam sejumlah kasus penindakan.

Ia menyebut, dalam beberapa kasus, barang bukti yang diamankan dapat mencapai sekitar 10 tandan atau kurang lebih 160 kilogram TBS dengan nilai ekonomi ratusan ribu rupiah dalam sekali angkut.

Menurut dia, apabila aktivitas tersebut dilakukan berulang, motif ekonominya perlu ditelusuri lebih jauh dan tidak semata-mata dipandang sebagai tindakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Sebagai ilustrasi, apabila nilai TBS yang diambil mencapai sekitar Rp700 ribu dan dilakukan setiap hari, nilainya secara matematis dapat mencapai sekitar Rp4,9 juta dalam satu pekan atau sekitar Rp21 juta dalam 30 hari.

Tulis Komentar

Komentar