Dampaknya, kata dia, sebagian musisi dan promotor konser dituntut untuk beradaptasi dengan perkembangan tersebut. Adaptasi menjadi kunci, baik dalam cara berkarya, memasarkan musik, maupun menjangkau penonton.
Namun demikian, Deny yang bekerja sebagai konsultan konser dan program TV perusahaan kreatif Kolam Ikan mengatakan dia percaya, pada 2026 nanti, meski dunia digital akan terus berkembang, sebagian penikmat musik akan mulai kembali mencari karya yang memiliki rasa, jiwa, dan kejujuran manusia, bukan sekadar suara yang dihasilkan mesin.
“Mereka akan memilih tontonan yang memunculkan kenangan. Maka untuk musisi dan promotor, harus menyikapi AI sebagai partner bukan ancaman. Harus semakin jeli membaca peluang menggabungkan teknologi dengan sentuhan emosional agar tetap relevan dan tidak tertinggal oleh perubahan zaman,” ujarnya.
Intinya, di era AI dan digital ini, sebagian penonton tidak hanya datang ke sebuah acara musik, untuk mendengar suara yang “sempurna”, tapi untuk merasakan kehadiran manusia di balik musik.
Karya dan konser yang meninggalkan kenangan indah adalah yang membuat penonton pulang dengan perasaan: “Saya merasa terhubung, saya merasa ditemani.”
“Itulah nilai yang tidak bisa digantikan mesin,” tutup Deny.
Film Indonesia Berkiprah Internasional
Komentar