Film Pangku menceritakan perjuangan Sartika, seorang ibu tunggal hamil yang terpaksa bekerja sebagai pelayan di warung kopi "pangku" di jalur Pantura untuk bertahan hidup. Ia tidak punya banyak pilihan selain bekerja di warung kopi di mana pelanggan memangku pelayannya. Film ini menyoroti tema-tema perjuangan, cinta, harapan, dan pilihan hidup yang sulit dalam realitas keras.
Sartika meninggalkan kota asalnya demi kehidupan yang lebih baik bagi bayinya, namun perjalanannya membawanya ke Pantura di mana ia menjadi pelayan di warung kopi pangku.
Ia dibantu oleh Bu Maya yang dibintangi Christine Hakim, pemilik kedai kopi, dan bertemu Hadi (Ferdi Nuril), seorang sopir truk yang menjadi harapan dalam hidupnya.
Film ini mengeksplorasi isu sosial dan konflik personal, perjuangan perempuan, dan kerasnya kehidupan di pinggiran Pantura.
Kepada Forum Senja, kritkus film Ekky Imanjaya, Ph.D. dari departemen film Binus University mengatakan film “Pangku” adalah “kuda hitam” dan kejutan manis sinema Indonesia.
“Film ini sebenarnya mengandung materi yang mengarah pada “poverty porn”: single mom, miskin, menyelami dunia malam pantura dan pelacuran “kelas teri”.
Tapi Reza Rahadian memilih untuk tidak mengeksploitasi itu, dan menjadikannya sumber air mata (tearjerker). Tidak terlihat film ini merendahkan perempuan ataupun kemiskinan dan berbagai efek sampingnya.”
Ekky yang dihubungi dalam perjalanannya ke Festival Film Horor di Pacitan menambahkan: “Sebaliknya, Reza menyalurkan rasa simpati dan keberpihakannya kepada fenomena ‘Kopi Pangku’ yang ia temui saat melalui daerah itu. Reza mengundang penonton lewat mata kamera, hadir dan menyaksikan sendiri pergumulan seorang dari ribuan rakyat jelata untuk sekadar hidup merdeka, punya hak untuk berharap. Film ini memanusiakan mereka yang terpinggirkan.”
Penulis: Yanto Soegiarto,
Mantan Pemimpin Redaksi Indonesian Observer, Head of Content astaga.com, mantan Pemimpin Redaksi RCTI, Managing Editor Majalah Globe Asia dan kolumnis Jakarta Globe.
Komentar