Orang tuanya merantau ke Australia sejak 1954. Sang ayah yang sebelumnya bekerja di Bank Indonesia kemudian bertugas di perwakilan Indonesia di Australia. Selain itu, ayahnya juga dikenal sebagai salah satu tokoh Muslim awal di kota Canberra.
“Ayah saya juga yang membangun salah satu kompleks pemakaman Islam pertama di Canberra,” ujar Aulia.
Lingkungan multikultural Australia membuatnya belajar tentang disiplin, konsistensi, dan komitmen terhadap janji.
“Kalau orang Barat janji A, ya A. Janji B, ya B,” katanya.
Memulai dari Pekerja Paruh Waktu
Seperti banyak mahasiswa di Australia, Aulia sudah bekerja sejak muda untuk membantu perekonomian keluarga setelah ayahnya meninggal.
Ia pernah bekerja sebagai waiter, cleaner, hingga breakfast cook di restoran.
Di Australia, pekerjaan paruh waktu memang umum dilakukan mahasiswa karena sistem pembayaran berdasarkan jam kerja.
“Jadi sejak sekolah dan kuliah, saya sudah terbiasa mencari uang sendiri,” ujarnya.
Awalnya ia tidak bercita-cita bekerja di industri hotel. Saat kuliah ia mengambil jurusan manajemen dengan bayangan bekerja di kantor. Namun pengalaman kerja di restoran membuatnya tertarik pada dunia hospitality.
“Awalnya bukan passion. Tapi lama-lama saya melihat industri ini menarik karena kita bertemu banyak orang dari berbagai negara,” katanya.
Komentar