Laksamana Cheng Ho lahir dengan nama Ma He. Ia memulai pengabdiannya di lingkungan Istana Dinasti Ming sejak usia muda dan kemudian dipercaya memimpin armada pelayaran oleh Kaisar Yongle. Dalam perjalanan kariernya, Ma He memperoleh nama keluarga Zheng, sehingga dikenal dunia sebagai Zheng He atau Cheng Ho.
Ma Hazhi, yang dimakamkan di Bukit Yueshan, disebut sebagai ayah Cheng Ho. Di area makam terdapat prasasti yang menjelaskan bahwa Cheng Ho pernah berziarah ke makam ayahnya ketika menjabat sebagai petinggi militer di Beijing.
Kawasan Bukit Yueshan juga dipercaya sebagai tanah kelahiran Cheng Ho. Di lokasi tersebut berdiri patung Cheng Ho setinggi sekitar 5,5 meter yang menghadap ke Danau Dian Chi, danau terbesar di Provinsi Yunnan.
Sebagaimana ayahnya, Cheng Ho merupakan seorang Muslim dan keturunan keenam dari Saidianchi, mufti Yunnan pada masanya. Selain dikenal sebagai pelaut dan diplomat, Cheng Ho juga tercatat menyebarkan nilai-nilai perdamaian dan mempererat hubungan antarmasyarakat di berbagai wilayah yang disinggahinya. Di Indonesia, namanya diabadikan menjadi nama beberapa masjid, di antaranya di Palembang dan Batam, sementara jejak sejarahnya di Semarang dikenal melalui kawasan Sam Poo Kong.
Teguh Santosa: Cheng Ho Simbol Persahabatan dan Diplomasi Budaya
Ketua Umum JMSI Teguh Santosa mengatakan, sosok Cheng Ho memiliki makna yang sangat penting bagi hubungan Indonesia dan Tiongkok.
Komentar