Menurutnya, Cheng Ho bukan hanya dikenang sebagai penjelajah besar, tetapi juga sebagai simbol persahabatan, diplomasi, dan jembatan kebudayaan yang telah menghubungkan kedua bangsa selama berabad-abad.
"Nama Laksamana Cheng Ho sangat dikenal di Indonesia. Ia bukan hanya penjelajah besar dalam sejarah, tetapi juga simbol persahabatan, diplomasi, dan jembatan kebudayaan antara Indonesia dan Tiongkok," ujar Teguh.
Ia menambahkan, perjalanan Cheng Ho menjadi bukti sejarah bahwa hubungan kedua bangsa telah dibangun melalui perdagangan, dialog, dan sikap saling menghormati.
Warisan Cheng Ho Dinilai Relevan di Era Digital
Pembina Farah.id, Farida Farhah, mengaku terkesan melihat langsung kawasan bersejarah yang berkaitan dengan Cheng Ho.
"Sejak kecil kita sering mendengar nama Cheng Ho. Kini kami melihat langsung jejak sejarahnya. Kisah hidupnya sangat inspiratif," ujarnya.
Sementara itu, Ketua JMSI Kalimantan Tengah Julius Marulitua Sinaga menilai hubungan Indonesia dan Tiongkok saat ini patut terus dikembangkan dengan menjunjung nilai-nilai persahabatan yang diwariskan Cheng Ho.
Ketua JMSI Lampung Ahmad Novriwan menambahkan, pelayaran Cheng Ho menunjukkan semangat membangun hubungan ekonomi dan kebudayaan yang dapat menjadi inspirasi dalam memperkuat kerja sama kedua negara.
Sebelum meninggalkan Bukit Yueshan, Penasihat JMSI Mursyid Sonsang menyampaikan harapan agar insan media Indonesia dapat terus menjadi penghubung persahabatan antarbangsa.
"Seperti Cheng Ho, kami siap menjadi jembatan kebudayaan dan persahabatan di era digital," ujarnya.
Kunjungan delegasi JMSI ke makam Ma Hazhi menjadi simbol penguatan diplomasi budaya sekaligus mempertegas komitmen media dalam membangun hubungan yang harmonis, saling menghormati, serta memperluas kolaborasi Indonesia dan Tiongkok di tengah perkembangan era digital.(Red)*
Komentar