Ketua Badan Liga KSMI Aceh sekaligus Ketua Panitia Laycar Championship 2026, Charles Wibawa, S.T., mengatakan turnamen tersebut tidak hanya menjadi arena perebutan trofi, tetapi juga menjadi ruang bagi pemain untuk menunjukkan kemampuan dan membuka peluang menuju level kompetisi yang lebih tinggi.
“KSMI Aceh hadir membangun ekosistem sepakbola mini di daerah. Bukan sekadar mencari juara, tetapi membuka ruang lahirnya talenta-talenta muda yang berkemampuan, berkarakter dan tangguh,” ujar Charles.
Menurutnya, perkembangan sepakbola mini di Aceh membuka peluang pembinaan atlet secara lebih luas. Kompetisi yang rutin dan terukur dinilai penting untuk menemukan pemain potensial sekaligus membangun budaya kompetisi yang sehat.
“Sepakbola mini berkembang pesat. Ini peluang besar bagi Aceh menjadikannya sebagai wadah pembinaan atlet dan prestasi,” katanya.
Sportivitas Jadi Bagian Penting Kompetisi
Charles menegaskan, persaingan di lapangan harus tetap berlangsung dalam koridor sportivitas. Setiap tim diharapkan bermain disiplin, menghormati lawan, serta menjaga semangat persaudaraan selama kompetisi berlangsung.
“Menang adalah tujuan, tetapi sportivitas dan kebersamaan yang dibawa pulang adalah yang paling berharga. Kami berharap dari sini lahir pemain yang mampu mengangkat nama Aceh hingga tingkat nasional,” ujarnya.
Laycar Championship 2026 menjadi langkah awal KSMI Aceh dalam membangun kompetisi sepakbola mini yang lebih aktif dan berkelanjutan.
Dari lapangan AR Minisoccer Mibo, para pemain Aceh mendapatkan ruang untuk menguji kemampuan dalam kompetisi. Bukan hanya tentang ketajaman mencetak gol, tetapi juga konsistensi, kedisiplinan dan sportivitas hingga peluit akhir.
“Trofi menjadi target, tetapi masa depan sepakbola mini Aceh menjadi taruhan yang lebih besar,” pungkas Zubir.
*Penulis; Redaksi
Komentar