Bung Tomo menunaikan nazarnya kalau bebas akan membopong istrinya. Begitu istrinya datang ke Kejaksaan Agung, dia langsung membopongnya. “Dialah yang begitu tabah setiap hari menengok dan mengirim makanan ke Nirbaya,” kata Bung Tomo.
Dari Kejaksaan Agung, mereka dibawa kembali ke Nirbaya. Siang itu juga Mahbub dan Sunny pulang, sementara Bung Tomo menjemput istri dan anaknya menjelang Isya.
Bung Tomo meninggal dunia ketika menjalankan ibadah haji pada 7 Oktober 1981, sehari sebelum Hari Raya Iduladha. Jenazahnya dibawa kembali ke Indonesia pada tahun 1982 setelah melalui proses yang panjang. Bung Tomo tidak dimakamkan di Taman Makam Pahlawan, tetapi di Taman Pemakaman Umum Ngagel Surabaya.
"Banyak anak muda yang mengira Mas Tom itu Pahlawan Nasional... Aku menghargai sekali orang-orang yang ingin mengajukannya agar diangkat menjadi Pahlawan Nasional. Itu terserah mereka, tingginya diangkat atau tidak, bukan soal karena itu soal duniawi. Karena aku menganggap Mas Tom sudah dianugerahi oleh Allah dengan meninggal di Arafah. Itu merupakan penghargaan yang tinggi sekali," kata Sulistina (Istri bung Tomo).
*Gajah mati meninggalkan gading, Manusia mati meninggalkan nama. ***
Oleh : Heru Riyadi, SH. MH. Dosen FH-UNIVERSITAS PAMULANG, Dewan Penasehat LKBH - PWI PUSAT, Dewan Penasehat AMKI PUSAT.
Komentar