“Di PTPN IV Regional III, kami memastikan bahwa produksi tidak berjalan berdasarkan asumsi, melainkan berdasarkan data yang terukur. Akurasi trossen telling kami mencapai 96,77 persen, dengan realisasi terhadap prognosa menyentuh 100,46 persen dan deviasi hanya 0,46 persen. Ini menunjukkan validitas data yang kami bangun benar-benar presisi,” ujarnya.
Menurutnya, trossen telling bukan sekadar metode penghitungan bunga buah, melainkan parameter utama dalam memproyeksikan produksi TBS selama satu tahun penuh. Data tersebut menjadi dasar penyusunan kebutuhan operasional dari hulu ke hilir, mencakup tenaga kerja, material, transportasi, hingga aspek pendukung lainnya (labor, material, transport, and others / LMTO).
“Dengan forecast yang akurat, kami dapat menghindari kehilangan momentum saat panen puncak. Tidak ada keterlambatan tenaga kerja, kekurangan armada, maupun keputusan tanpa dasar data,” jelasnya.
Secara teknis, evaluasi akurasi dilakukan dalam dua periode, yakni Semester I dan Semester II 2025, dengan pembobotan berdasarkan kontribusi masing-masing kebun terhadap target RKAP. Tiga indikator utama yang digunakan meliputi jumlah tandan (80 persen), berat tandan rata-rata/BTR (10 persen), serta volume TBS (10 persen).
Komentar