Seputar Publik / Berita

Narkoba Diduga Picu Maraknya Pencurian Sawit di Sumut, Petani dan PTPN IV PalmCo Alami Kerugian Besar

PTPN IV PalmCo mengungkap dugaan keterkaitan peredaran narkoba dengan meningkatnya pencurian tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di Sumatera Utara. Petani rakyat hingga perkebunan negara disebut menjadi korban aksi terorganisir yang kerap disertai ancaman kekerasan.
Peredaran narkoba diduga menjadi salah satu faktor pemicu maraknya pencurian buah sawit di Sumatera Utara. Petani rakyat dan PTPN IV PalmCo mengaku mengalami kerugian besar akibat aksi terorganisir yang semakin berani dan meresahkan.(Foto: Ilustrasi) Peredaran narkoba diduga menjadi salah satu faktor pemicu maraknya pencurian buah sawit di Sumatera Utara. Petani rakyat dan PTPN IV PalmCo mengaku mengalami kerugian besar akibat aksi terorganisir yang semakin berani dan meresahkan.(Foto: Ilustrasi)

"Kalau melihat polanya, pencurian dilakukan secara terorganisir. Bahkan ketika ketahuan, ada yang berani mengancam menggunakan senjata," katanya.

Selain kerugian ekonomi, praktik pencurian juga berdampak terhadap kondisi tanaman karena proses panen dilakukan tanpa memperhatikan standar teknis perkebunan.

PTPN IV PalmCo Hadapi Tantangan Serupa

Permasalahan serupa juga dihadapi perkebunan negara yang dikelola PTPN IV PalmCo. Luasnya area perkebunan dan banyaknya akses masuk menjadi tantangan tersendiri dalam upaya pengamanan aset perusahaan.

Seorang pemanen sawit di wilayah PTPN IV Regional 2, Zulfikar (38), mengungkapkan pencurian TBS sering menghambat pencapaian target panen karena buah matang telah lebih dulu diambil pelaku.

"Sering kali kami datang ke blok yang seharusnya siap dipanen, tetapi sebagian buah sudah hilang. Akibatnya target panen menjadi sulit dicapai," ujarnya.

Region Head PTPN IV Regional 2, Budi Susanto, mengatakan pencurian sawit menjadi perhatian serius perusahaan karena berdampak terhadap produktivitas, efisiensi operasional, serta keberlanjutan usaha.

"Setiap tandan buah yang dicuri tidak hanya mengurangi produksi perusahaan, tetapi juga memengaruhi efisiensi operasional dan keberlanjutan bisnis," kata Budi.

Tulis Komentar

Komentar