Yang baru hanyalah cara menyampaikannya: lebih vulgar, lebih satir, dan lebih mudah viral.
Video semacam itu biasanya memakai pola yang nyaris seragam. Animasi hewan berdasi duduk di meja panjang. Di atas meja: peta Papua, gunung emas, atau hutan yang dijadikan “hidangan”. Narasi dibangun sederhana — segelintir elite berpesta, masyarakat adat kehilangan tanah dan pangan.
Bahasa simbolik seperti ini efektif di media sosial karena bekerja lewat emosi, bukan detail data. Ia memadatkan persoalan rumit menjadi satu gambaran sederhana: ada yang makan terlalu banyak, sementara yang lain kehilangan hak hidupnya.
Namun justru karena kesederhanaannya, video seperti itu mudah tergelincir ke wilayah rawan: tuduhan tanpa verifikasi, generalisasi etnis, atau pencemaran nama baik. Di titik inilah ia berbenturan dengan hukum digital dan standar jurnalistik.
Negara sebenarnya tidak melarang kritik terhadap industri ekstraktif di Papua. Kritik semacam itu sudah lama muncul di ruang publik melalui laporan resmi dan karya investigasi. Yang dipersoalkan biasanya adalah cara penyampaiannya.
Komentar