Seputar Publik / Opini

Refleksi Hari Santri 2025, Resolusi Jihad dan Tantangan Santri di Era Digital

Oleh: Samsul Arifin
 Samsul Arifin, Pemimpin Redaksi Media Siber Bromartani.com, Santri dari salah satu pesantren di Bojonegoro. Samsul Arifin, Pemimpin Redaksi Media Siber Bromartani.com, Santri dari salah satu pesantren di Bojonegoro.

Beberapa waktu lalu, masyarakat santri di tanah air dikejutkan oleh sebuah tayangan televisi nasional yang memuat pemberitaan tentang pesantren, namun dengan cara yang menyudutkan dan tidak berimbang. Tayangan itu menimbulkan persepsi keliru, menodai citra lembaga pendidikan Islam yang selama ini menjadi benteng moral bangsa.

Sebagai seorang santri dan juga jurnalis, saya merasakan getirnya situasi itu. Di satu sisi, kita menghormati kebebasan pers sebagai bagian dari demokrasi. Namun di sisi lain, kita juga harus tegas menolak pemberitaan yang mengabaikan prinsip keadilan dan keberimbangan.

Pesantren bukan hanya lembaga pendidikan agama. Ia adalah pusat peradaban, tempat tumbuhnya karakter, moral, dan cinta tanah air. Maka ketika pesantren disudutkan tanpa data dan verifikasi yang memadai, itu bukan sekadar melukai institusi, tetapi melukai sejarah panjang pengabdian santri terhadap negeri.

Santri di era ini dituntut untuk tidak hanya pandai membaca kitab kuning, tetapi juga mampu membaca dinamika dunia digital.

Kemampuan literasi media, literasi data, dan literasi informasi menjadi kebutuhan mendesak.

Santri harus menjadi pelurus berita, bukan penyebar kabar burung.

Santri harus menjadi pembawa pencerahan di tengah gelapnya ruang digital, bukan penggemar provokasi atau adu domba.

Di sinilah letak jihad baru santri—jihad literasi dan jihad informasi. Jihad melawan hoaks, melawan fitnah, melawan manipulasi kebenaran.

Tulis Komentar

Komentar