Seputar Publik / Opini

Tuksa: Ruang Putih, Kehampaan Manusia, dan Perjalanan Menuju Batas Kewarasan

Karya: Lionel Jaden Huang, Kelas XI IPS — sebuah refleksi filosofis tentang kebebasan, absurditas kehidupan, pemberontakan, dan manusia yang berhadapan dengan kehampaan dirinya sendiri.
“Ketika ruang putih kehilangan warna, manusia dipaksa berhadapan dengan satu hal yang paling sulit dilawan: kehampaan di dalam dirinya sendiri.” “Ketika ruang putih kehilangan warna, manusia dipaksa berhadapan dengan satu hal yang paling sulit dilawan: kehampaan di dalam dirinya sendiri.”

Aku ingin mati...

Sudah berapa lama waktuku kuhabiskan di tempat terkutuk ini?

Rasanya seperti satu abad.

Ironisnya, baru kusadari bahwa waktu yang kuhabiskan di tempat hampa ini bahkan belum genap satu hari.

Di sini, segalanya diwajibkan berwarna putih.

Lampu neon yang menyilaukan. Ruangan tanpa sudut. Lantai yang kosong. Dan yang paling mengerikan, suasana yang begitu mencekam.

Bagi sebagian orang, putih mungkin melambangkan surga.

Bagiku, ini adalah neraka yang dibangun di bumi.

Saat pertama kali menginjakkan kaki di tempat ini, kupikir aku hanya sedang memasuki sebuah penjara yang ganjil—sebuah ruangan yang dipenuhi warna putih.

Setidaknya, itulah pikiranku saat itu.

Namun, ketika berdiri di depan pintu sel, aku tiba-tiba ditarik secara paksa. Setiap helai rambutku dibaluri cat putih. Pakaian tahanan putih dikenakan kepadaku. Bahkan identitasku seolah dirampas dan digantikan dengan sebuah nama baru:

F000.

Tulis Komentar

Komentar