Dadaku terasa panas.
Ketakutan, kepatuhan, dan kebutaan yang selama ini menahanku seolah runtuh dalam satu waktu.
Mataku tertuju pada meja Kabanov.
Di antara dokumen dan benda-benda di atasnya, terdapat sebuah patung beruang.
Tanganku bergerak.
Aku mencengkeram patung itu.
“Kau mau apa, Lukyan?”
Kabanov menatapku.
Aku tidak menjawab.
Aku sudah muak.
Dengan seluruh tenaga yang tersisa, kuangkat patung itu.
Untuk sesaat, pria yang selama ini membuatku takut justru terlihat ketakutan.
“Lukyan...”
Suaranya berubah.
“Kumohon.”
Aku tidak mendengar apa pun lagi.
Aku hanya melihat seseorang yang selama ini menjadi simbol dari hidup yang ingin kutinggalkan.
Patung itu kuayunkan.
Komentar