“Jika dilihat lagi, kau sekarang hanya duduk di dalam kotak ini, menunggu giliran dilupakan dunia. Apakah itu kebebasan yang kau impikan?”
Aku ingin menyangkalnya.
Aku ingin mengeluarkan argumen panjang tentang filsafat, kebebasan, dan pilihan manusia.
Namun semakin kucari kata-kata itu, semakin besar pula celah yang kutemukan dalam keyakinanku sendiri.
“Setidaknya,” kataku akhirnya, “aku tidak mati dengan diam.”
Aku menatap mereka.
“Aku memilih akhir ceritaku sendiri.”
Aku tersenyum.
Kupikir aku menang.
Namun pria paruh baya itu tidak terkesan.
Ia hanya mengisap rokoknya.
“Memilih?”
Ia berjalan mendekat.
“Kau tidak pernah memilih, Lukyan.”
Ia berhenti.
“Kau hanya menyerahkan pilihanmu kembali kepada kotak ini.”
Komentar