Setiap langkah terasa berat.
Namun aku tetap berjalan.
Karena dalam dunia absurd ini, seorang budak seolah tidak mempunyai pilihan selain berjalan menuju majikannya sendiri.
“Lukyan,” katanya tanpa mengangkat kepala dari layar komputer.
“Ya, Pak?”
Aku berusaha membuat suara tetap tenang.
Kabanov akhirnya menatapku.
Ia melempar map hitam itu ke lantai.
Kertas-kertas berhamburan.
“Ini sampah, Lukyan!”
Suara bentakannya memenuhi ruangan.
Beberapa rekan menundukkan kepala.
Pura-pura tidak melihat.
Pura-pura tidak mendengar.
Pura-pura tidak peduli.
“Angka-angka ini tidak ada gunanya! Perusahaan ini tidak membutuhkan orang yang bekerja setengah mati tetapi tidak menghasilkan apa-apa!”
Kata-kata itu bukan lagi teguran.
Komentar