Sebelum benar-benar lenyap, suara pria paruh baya itu kembali terdengar.
“Nikmati sisa kewarasanmu, Lukyan.”
Ia berhenti.
“Hitung mundur tiga puluh hari... sebelum ruangan ini mencuci kewarasanmu.”
Hari-hari berikutnya—atau mungkin hanya ilusi tentang hari—berjalan tanpa bentuk.
Di tempat terkutuk itu, matahari seolah dilarang masuk.
Lampu neon terus menyala.
Waktu kehilangan wujudnya.
Untuk mengetahui berapa lama aku telah berada di sana, aku menggunakan satu hal:
kuku.
Setiap kali kehampaan datang dan membuat pikiranku terasa hampir runtuh, aku mencakar sebuah garis di dinding.
Satu garis.
Kemudian satu lagi.
Seiring waktu, hitungan itu semakin kacau.
Kadang-kadang kukuku terluka karena aku mencakar dinding terlalu cepat.
Aku bahkan tidak lagi tahu apakah satu garis berarti satu hari atau hanya satu ilusi yang diciptakan pikiranku sendiri.
Kemudian datang rutinitas lain.
Jatah makanan.
Sebuah lubang kecil di bawah pintu dibuka.
Nampan logam didorong masuk.
Di atasnya hanya terdapat bubur abu-abu yang mengepul tipis.
Apakah benda itu layak disebut makanan?
Setiap suap tidak memiliki rasa.
Bukan sekadar hambar.
Lebih seperti kehampaan yang memiliki bentuk.
Awalnya aku mencoba memberontak.
Nampan itu kubiarkan utuh di lantai.
Biarkan aku mati kelaparan.
Begitulah pikirku.
Setidaknya mereka tidak berkuasa atas diriku.
N... Bersambung ..
Komentar