Namun aku tidak peduli.
Aku kembali menghantam dinding itu.
Sekali lagi.
Dan sekali lagi.
Aku berharap dinding tersebut hancur.
Atau setidaknya, suara di kepalaku ikut menghilang bersamanya.
Namun dinding itu tetap berdiri.
Tidak retak.
Tidak berubah.
Tetap putih.
Tetap mulus.
Tetap tidak peduli.
Saat itu aku merasa dipermainkan.
Semakin terasa sakit luka yang kuterima, semakin jelas kusadari betapa sia-sianya semua yang kulakukan selama ini.
Seberapa keras pun aku berusaha mengubahnya, semuanya tetap tidak berubah.
Aku berteriak.
Tubuhku terhuyung.
Napas tersengal.
Kemudian aku jatuh.
Komentar