Kita memburu.
Kita bertahan hidup.
Kita berlomba mencari arti bagi sepersekian detik keberadaan kita, sementara bumi terus berputar tanpa peduli siapa diri kita.
Dunia ini benar-benar absurd.
Dan aku, dengan sisa kewarasan yang masih kumiliki, baru menyadari bahwa aku telah menghancurkan hidupku demi melawan sesuatu yang bahkan tidak memiliki bentuk.
Cukup!
Teriakan itu menggema di dalam kepalaku.
Begitu keras hingga rasanya aku sendiri menjadi tuli.
Aku sudah tidak tahan lagi.
Aku membutuhkan bukti bahwa aku masih hidup.
Bahkan jika bukti itu harus dibayar dengan rasa sakit.
Tubuhku bergerak sebelum akal sehat sempat mencegahnya.
Aku menghantamkan kepala ke dinding.
BUGH!
Suara benturan menggema ke seluruh ruangan.
Lukaku terasa panas. Pandanganku berkunang-kunang.
Komentar